DEMOCRAZY.ID – Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Bidang Komunikasi dan Media, Abdullah Rasyid menyorot tajam ke PSSI.
Sorotan ini terkait kemungkinan terburuk untuk Ketua Umum PSSI saat ini Erick Thohir untuk mundur dari jabatan yang saat ini dijabat.
Kemungkinan mundurnya Erick Thohir dari jabatannya itu tak lepas dari kegagalan yang didapatkan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2026.
Terbaru, hasil buruk dan jauh dari harapan pun kembali didapatkan pada edisi 2026 ini. Skuad asuhan John Herdman gagal melaju ke babak semifinal.
Di Piala AFF 2026, Timnas Indonesia gagal melaju ke babak semifinal usai hanya mampu finish di posisi ketiga klasemen akhir grup A.
Mereka kalah saing dari Singapura yang menempati posisi kedua dengan delapan poin serta Vietnam yang keluar sebagai juara grup dengan 10 poin
Timnas Indonesia harus puas finish di posisi ketiga dengan raihan tujuh poin hasil dari dua kemenangan, satu hasil imbang dan satu kekalahan.
Kegagalan ini jadi kegagalan merengkuh gelar juara selama 30 tahun keikutsertaan di Piala AFF, termasuk tak lolos grup dalam dua edisi terakhir.
Bisa dikatakan Indonesia jadi tim di juat di ASEAN yang belum punya gelar juara.
Bisa dikatakan juga sudah terlalu lama kita terjebak di lingkaran setan sepak bola Indonesia. Tak bergerak. Tak beranjak.
Jika melihat capaian negara pesaing di Piala AFF ini, Thailand unggul jauh dengan raihan tujuh gelar juara sekaligus jadi yang terbanyak.
Disusul oleh Singapura dengan raihan empat gelar sejauh ini. Lalu ada Vietnam dengan tiga gelar dan Malaysia dengan satu gelar.
Sementara Indonesia, belum memiliki satu gelar pun Piala AFF sepanjang keikutsertaan di kompetisi tersebut.
Kegagalan yang kembali didapatkan di Piala AFF 2026 ini membuat banyak pihak yang menyebut PSSI bisa jadi pihak yang paling bertanggung jawab atas hasil ini.
Abdullah Rasyid lewat unggahan media sosial X pribadinya pun menyebut bagaimana jika atau kemungkinan Erick Thohir mundur dari kursi PSSI.
“Erick Thohir, Sudah Saatnya Mundur?” tulisnya dikutip Minggu (9/8).
Menurutnya ini bisa dilakukan jika tidak ingin banyak anak berbakat dengan pergorbanan yang dilakukan namun tidak mendapat kesempatan.
Begitu juga dengan para pelatih yang melakukan development pembangunan sepakbola sejak dini namun sulit mendapatk kesempatan.
“Berapa banyak anak berbakat yang bisa masuk akademi berkualitas? Berapa banyak yang mendapat pelatih dengan standar baik sejak usia dini? Berapa banyak pertandingan kompetitif yang mereka jalani sebelum usia 18 tahun? Seberapa bagus nutrisi, sports science, pendidikan dan proses pencarian bakat kita?” paparnya.
Satu pernyataan tegas yang diberikan oleh Abdullah Rasyid adalah program naturalisasi yang gencar dilakukan PSSI saat ini tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan naturalisasi,” pungkasnya.