

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik tanah air kembali diwarnai oleh silaturahmi bernuansa intelektual dan spiritual.
Pertemuan antara Sekretaris Kabinet Bayangan, Feri Amsari, dengan pendakwah kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) mendadak menjadi sorotan publik dan memicu beragam spekulasi liar di ruang digital.
Pertemuan hangat yang mempertemukan aktivis hukum tata negara tersebut dengan UAH sontak memantik rasa penasaran warganet.
Banyak pihak yang langsung mengaitkan momen tersebut dengan skenario politik, menduga bahwa sang penceramah tengah dilirik untuk mengisi pos strategis dalam Kabinet Bayangan—khususnya kandidat kuat untuk memegang kendali sebagai Menteri Agama.
Kendati spekulasi dan rumor politik berhembus kencang di lini masa, Feri Amsari langsung bergerak cepat memberikan klarifikasi terbuka melalui akun media sosial pribadinya.
Ia menegaskan bahwa perjumpaan tersebut sama sekali tidak membahas bagi-bagi jatah kursi kekuasaan atau posisi politik tertentu.
Pertemuan itu murni diisi dengan agenda menimba ilmu dan mendengarkan petuah moral.
“Semalam belajar menundukkan hati dan menjernihkan pikiran. Beliau yang ilmunya masyhur lagi lapang telah memberikan nasihat-nasihat baik kepada saya,” ungkap Feri membagikan kesan mendalamnya.
Dalam dialog penuh hikmah tersebut, Feri menyebutkan bahwa UAH secara khusus menitipkan pesan penting mengenai esensi spiritual dalam mengarungi kehidupan publik.
Sang ustadz mengingatkan pentingnya meluruskan niat serta menyadari bahwa turunnya hidayah merupakan hak prerogatif mutlak Tuhan yang dapat dianugerahkan kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Penting memiliki keyakinan bahwa hidayah itu milik Allah yang dapat diberikan kepada siapa pun. Penting menurut Ustadz menjaga niat,” ujarnya.
Pertemuan sarat makna itu rupanya meninggalkan bekas yang begitu dalam bagi Feri Amsari.
Dikenal sebagai pakar hukum tata negara yang kritis, ia justru dibuat terkesima oleh keluasan wawasan UAH tatkala membedah konsep-konsep ketatanegaraan dari sudut pandang Islam.
Diskusi tersebut secara jujur membuatnya merasa memiliki keterbatasan wawasan dalam memandang relasi antara agama dan negara.
“Saya sangat terkesima ketika beliau menjelaskan aspek-aspek ketatanegaraan dalam Islam. Betapa dangkal ilmu dan kepahaman saya,” aku Feri dengan rendah hati.
Bahkan, saking terpesonanya dengan kedalaman ilmu sang ulama, Feri secara terbuka menyampaikan penyesalan atas masa lalunya.
Ia mengaku menyesal pernah menerima tawaran untuk menulis kata pengantar dalam buku bertema politik ketatanegaraan karya seorang ulama yang diterbitkan ulang, sebuah keputusan yang rasanya tidak akan ia ambil seandainya ia sudah menimba ilmu dari UAH lebih awal.
“Seandainya saya bertemu lebih awal dengan UAH, saya yakin tak akan menerima tawaran itu,” tulisnya terang-terangan.
Menutup catatannya, Feri menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para pemegang ilmu pengetahuan dan para ulama yang konsisten mencerahkan umat, sekaligus meredam spekulasi politik praktis yang sempat dialamatkan pada perjumpaan edukatif tersebut.
“Terberkahilah orang-orang berilmu,” pungkasnya penuh takzim.
👇👇