

DEMOCRAZY.ID — Pemandangan janggal nan kontroversial mendadak menghentak lini masa media sosial dan memancing tanda tanya besar dari warganet tanah air.
Sebuah gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berdiri megah di tengah kawasan hutan lebat di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, viral setelah rekaman udara dari kamera drone yang diunggah oleh akun Instagram @fauzanamc mempertontonkan lokasinya yang tampak terpencil jauh dari permukiman warga.
Keberadaan bangunan ekonomi di tengah belantara tersebut sontak menuai polemik dan memicu gelombang spekulasi liar di ruang publik, memaksa pihak Istana turun tangan memberikan penjelasan resmi guna meredam kehebohan.
Bukan tanpa alasan publik dibuat heran. Dalam video berdurasi singkat yang beredar luas tersebut, gerai KDKMP tampak berdiri di area yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun tanpa adanya akses perumahan penduduk yang lazim dijumpai di pusat-pusat aktivitas ekonomi desa.
Banyak warganet melontarkan kritik pedas dan mempertanyakan urgensi pembangunan fasilitas koperasi di lokasi yang dinilai tidak masuk akal, mengingat fungsi utamanya sebagai pusat pelayanan kebutuhan sehari-hari warga.
Di tengah desas-desas miring dan kecurigaan yang kian membesar ihwal salah sasaran program pembangunan infrastruktur ekonomi kerakyatan ini, pemerintah langsung bergerak cepat memberikan klarifikasi terbuka.
Lihat postingan ini di Instagram
Menanggapi badai kritik yang menerpa proyek tersebut, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dengan tegas pasang badan.
Ia menyatakan bahwa pendirian gerai KDKMP hingga menyasar wilayah-wilayah pelosok dan terpencil memang merupakan visi utama dan tujuan fundamental dari program kerakyatan tersebut.
Dudung menepis anggapan miring yang menyebut lokasi koperasi di kaki Gunung Ciremai sebagai sebuah kesalahan fatal.
Menurutnya, kehadiran koperasi di wilayah pedalaman justru menjadi solusi jitu agar masyarakat desa tidak lagi mengalami kesulitan luar biasa demi memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari.
“Jangkauannya kan KDKMP itu masing-masing desa ya karena masyarakat desa itu harus terpenuhi juga kebutuhannya,” ujar Dudung dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Lebih lanjut, mantan pimpinan militer tinggi tersebut menjelaskan bahwa pemilihan titik lokasi pendirian gerai sama sekali tidak dilakukan secara sembarangan atau asal-asalan.
Seluruh titik ditentukan secara partisipatif berdasarkan usulan murni dan aspirasi langsung dari pemerintah desa serta warga setempat.
“Di kampung mah sama saja. Kan itu dicari sesuai dengan aspirasi dari kepala desa,” ucap dia menegaskan.
Dudung memaparkan bahwa konsep besar di balik KDKMP dirancang secara khusus untuk menerobos wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi atau berada di luar jangkauan pusat perdagangan perkotaan.
Dengan hadirnya gerai koperasi di tingkat desa, warga di pedalaman tidak perlu lagi membuang waktu dan tenaga menempuh perjalanan jauh hanya demi membeli bahan pangan.
“Di luar jangkauan dari kota, dibentuklah koperasi desa. Tujuannya adalah biar masyarakat di pedalaman yang jauh dari mana pun, dengan adanya koperasi desa, maka dia tidak ada kesulitan,” ujarnya.
Ia merinci bahwa gerai-gerai tersebut nantinya difungsikan sebagai pusat pemenuhan kebutuhan vital warga, mulai dari komoditas pangan hingga penyediaan layanan transaksi harian yang esensial.
“Baik itu membeli gas, membeli pulsa, atau apa pun yang lainnya, terutama bahan-bahan seperti beras, minyak, gula, dan sebagainya. Itu tujuannya seperti itu,” lanjut Dudung.
Dengan penjelasan lugas tersebut, pihak Istana berharap polemik dan kecurigaan publik terkait penampakan gerai koperasi di kaki Gunung Ciremai dapat dihentikan.
Pemerintah bersikukuh bahwa proyek tersebut murni didedikasikan untuk memperluas pemerataan akses layanan ekonomi hingga ke sudut-sudut terluar wilayah Republik.