Agustus Diramal Jadi ‘Titik Krusial’ Kekuasaan Prabowo-Gibran: Skenario Penjatuhan Mulai Bergerak?

DEMOCRAZY.ID — Geliat konstelasi politik nasional diprediksi bakal memasuki babak paling menentukan.

Praktisi intelijen senior, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, secara blak-blakan membeberkan analisa mengejutkan bahwa bulan Agustus 2026 akan menjadi titik krusial penuh gonjang-ganjing bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Radjasa, tekanan politik dari arus bawah yang dikombinasikan dengan faktor usia dan kondisi kesehatan Prabowo yang diinilainya “tidak baik-baik saja” berpotensi menjadi pemicu utama mundurnya sang kepala negara dari kursi kekuasaan.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, posisi presiden secara otomatis akan digantikan oleh Gibran.

“Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Enggak baik-baik aja. Eh, yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing ya kan mulai Agustus dan seterusnya ini bisa juga ya kan tiba-tiba Presiden mengundurkan diri karena desakan publik, yang jadi Wapres,” ujar Radjasa dalam kanal YouTube 2045 TV, dikutip Rabu (29/7).

Ia menegaskan, mekanisme pengunduran diri sukarela akibat tekanan massa dan kondisi fisik ini memiliki lanskap hukum dan politik yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan proses pemakzulan formal di parlemen.

“Kalau presiden mengundurkan diri itu beda loh. Mungkin bisa satu paket,” imbuhnya.

Mengungkit Kembali “Sketsa Lama”: Isu Jabatan Dua Tahun dan Bantahan Rosan Roeslani

Analisa intelijen yang dilontarkan Radjasa ini sontak menyeret kembali ingatan publik pada ramalan-ramalan politik seputar durasi kekuasaan Prabowo yang sempat mencuat sejak masa kampanye Pilpres 2024 silam.

Sebelumnya, pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie sempat melempar pengakuan kontroversial bahwa dirinya pernah mendengar skenario “masa jabatan dua tahun” langsung dari mulut Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran saat itu, Rosan Roeslani.

Menurut klaim Connie, setelah paruh waktu kepemimpinan berjalan, estafet kekuasaan direncanakan bakal diserahkan sepenuhnya kepada Gibran.

“Saya bilang apa dulu saya mau tanya emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Ini menyampaikan Pak Rosan loh, duta besar kita, mantan, di Amerika. Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran,” beber Connie kala itu.

Kendati demikian, klaim tersebut langsung mendapat bantahan keras dari Rosan Roeslani.

Dalam konferensi pers resminya di Media Center TKN Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan, Rosan menegaskan bahwa narasi “dua tahun” itu justru pertama kali dilontarkan oleh Connie sendiri, bahkan dibumbui dengan spekulasi ekstrem yang langsung ditepisnya saat itu.

Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau (Connie) mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’, dia bilang begitu,” ungkap Rosan.

“Saya bilang, ‘Bu, udahlah, itu tidak pantas. Ya sudahlah, kita, sih, nggak ada pikiran seperti itu lah, janganlah’,” lanjutnya tegas.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya