

DEMOCRAZY.ID — Geliat politik putra bungsu mantan Presiden Joko Widodo sekaligus Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang resmi mendeklarasikan diri maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari Dapil V Jawa Tengah (Solo), menuai sorotan tajam.
Mantan Komisaris Independen PT Pelni, Dede Budhyarto, secara terbuka menyebut bahwa Kaesang melenggang dengan keistimewaan mutlak tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendongkrak popularitas.
Melalui cuitan di akun X pribadinya, Dede menilai popularitas politik Kaesang terdongkrak secara instan berkat statusnya sebagai bagian dari dinasti kekuasaan masa lalu, yang digerakkan secara masif oleh barisan pendukung di media sosial.
“Enaknya jadi anak Jokowi itu, tanpa perlu mengeluarkan anggaran konsultan politik, tanpa proposal komunikasi yang berlapis-lapis seperti media tempe yang ngasih proposal ke salah satu BUMN,” tulis Dede, dikutip Senin (27/7/2026).
“Popularitas justru melonjak berkat tenaga seperti akun @LambeSahamjja beserta barisan pengikutnya yang begitu antusias menyebarkan ‘berita’ tentang Kaesang Pangarep,” imbuhnya menyindir fenomena free publicity yang dinilai jauh lebih efektif dibanding tim sukses berbayar.
Sebelumnya, Kaesang secara resmi mengumumkan pencalonannya dalam perhelatan Pemilu Legislatif 2029 di hadapan para kader dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026) malam.
Di hadapan para pendukungnya, Kaesang secara khusus meminta agar basis suara di wilayah tersebut dikonsolidasikan secara ketat di bawah kendalinya, serta mewanti-wanti para kader agar tidak saling sikut memperebutkan suara internal.
“Pesan yang saya sampaikan tadi bukan pesan saya sebagai ketua umum. Tapi pesan saya sebagai bakal calon legislatif RI Dapil V Jawa Tengah,” cetus Kaesang.
“Insya Allah saya akan membersamai seluruh kader karena teritori yang diberikan kepada saya hanya di Kota Solo,” tambahnya penuh percaya diri.
Komentar pedas yang dilayangkan Dede Budhyarto sekali lagi menggarisbawahi bagaimana sorotan publik tidak pernah lepas dari bayang-bayang privilege keluarga Istana.
Di tengah upaya partai-partai baru dan politisi independen merintis jalan politik secara organik melalui pertarungan gagasan, trah kekuasaan dinilai masih menikmati karpet merah instan berkat eksposur masif ruang digital.
Ketika panggung politik 2029 mulai diwarnai klaim-klaim teritori kekuasaan dan pendomplengan panggung media sosial, pertaruhan integritas para aktor politik diuji secara telanjang di hadapan publik.