Ngenes Banget! Kisah Ryamizard Ryacudu ‘Batal’ Jadi Panglima TNI di Detik-Detik Terakhir

DEMOCRAZY.ID – Kepergian Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menandai berakhirnya satu generasi perwira militer yang pernah berada di lingkar inti kekuasaan pertahanan Indonesia.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) sekaligus Menteri Pertahanan era Presiden Joko Widodo itu wafat pada Minggu (31/5/2026) di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 76 tahun.

Jenazah Ryamizard dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Senin (1/6/2026).

Prosesi penghormatan terakhir dihadiri sejumlah tokoh nasional, petinggi TNI, Polri, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Panglima TNI dan Kapolri turut mengawal rangkaian pemakaman sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada era reformasi.

Namun jauh sebelum dikenal sebagai Menteri Pertahanan, nama Ryamizard pernah berada di titik paling dekat dengan jabatan Panglima TNI.

Saat menjabat KSAD periode 2002–2005, ia sempat menjadi kandidat kuat untuk memimpin TNI secara keseluruhan pada masa transisi pemerintahan dari Presiden Megawati Soekarnoputri menuju Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketika itu, banyak kalangan memprediksi Ryamizard akan melangkah ke kursi Panglima TNI. Karier militernya sedang berada di puncak.

Ia memimpin Angkatan Darat yang secara historis menjadi matra paling dominan di tubuh TNI dan memiliki pengaruh besar dalam struktur pertahanan nasional.

Akan tetapi, perubahan politik nasional setelah Pemilu Presiden 2004 mengubah arah suksesi tersebut.

Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya tidak memilih Ryamizard sebagai Panglima TNI. Pilihan justru jatuh kepada Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Marsekal TNI Djoko Suyanto.

Keputusan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah TNI.

Sebab, Djoko Suyanto tercatat sebagai perwira TNI Angkatan Udara pertama yang menduduki jabatan Panglima TNI sejak institusi itu berdiri.

Hal ini menyusul “perwakilan” TNI AL yang sudah dulu menjadi Panglima TNI ketika Gus Dur menjabat presiden, yakni Laksamana TNI AL Widodo AS.

Bagi Ryamizard, kegagalan menjadi Panglima TNI menjadi salah satu episode paling banyak dibicarakan dalam perjalanan kariernya.

Meski demikian, ia tetap menyelesaikan masa tugasnya sebagai KSAD hingga 2005 dan tidak pernah terlibat dalam polemik terbuka terkait keputusan politik tersebut.

Sejumlah pengamat militer ketika itu melihat pemilihan Djoko Suyanto sebagai bagian dari upaya membangun keseimbangan antarmatra di lingkungan TNI.

Langkah tersebut juga dipandang sebagai simbol penguatan profesionalisme institusi militer pasca-reformasi, ketika proses rotasi kepemimpinan mulai mempertimbangkan representasi seluruh matra secara lebih terbuka.

Meski batal menjadi Panglima TNI, nama Ryamizard tetap memiliki pengaruh kuat dalam lingkungan militer.

Pandangannya mengenai pertahanan negara, ancaman separatisme, hingga stabilitas nasional kerap menjadi rujukan dalam berbagai diskusi keamanan nasional.

Sosok sang jenderal

Ryamizard lahir di Palembang pada 21 April 1950 dan merupakan putra Mayjen TNI Musannif Ryacudu.

Ia lulus dari Akabri pada 1974 dan meniti karier militer dari satuan tempur Angkatan Darat.

Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Pangdam Brawijaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, hingga akhirnya dipercaya menjadi KSAD pada 2002.

Kariernya dikenal identik dengan pendekatan tegas terhadap isu keamanan nasional. Dalam sejumlah kesempatan, Ryamizard menempatkan stabilitas negara sebagai prioritas utama.

Sikap tersebut membuatnya menjadi salah satu figur militer yang cukup menonjol pada awal era reformasi.

Di luar dunia kemiliteran, Ryamizard juga dikenal aktif menyuarakan gagasan pertahanan negara melalui berbagai forum dan tulisan.

Ia tercatat menulis buku “Perang Modern” dan turut berkontribusi dalam buku “Indonesia Baru dan Tantangan TNI”, yang membahas tantangan keamanan dan transformasi militer Indonesia.

Babak baru dalam kariernya datang pada 2014 ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan.

Penunjukan itu cukup menyita perhatian karena Ryamizard berasal dari kalangan militer aktif yang dikenal memiliki karakter keras dan pandangan kuat mengenai isu pertahanan nasional.

Bagi Jokowi, Ryamizard bukan sekadar mantan KSAD. Presiden ke-7 RI itu menilai Ryamizard sebagai sosok yang memiliki karakter kepemimpinan kuat dan berani mengambil sikap ketika menjalankan tugas negara.

Karena alasan itu pula, Jokowi mempercayakannya memimpin Kementerian Pertahanan pada periode pertama pemerintahannya.

Saat mengenang kepergian mantan pembantunya itu, Jokowi menggambarkan Ryamizard sebagai figur yang sederhana dan konsisten memegang prinsip.

“Beliau seorang menteri yang sederhana, tegas, dan berani,” kata Jokowi saat menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ryamizard.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penutup perjalanan panjang seorang perwira yang pernah berada di ambang kursi Panglima TNI, tetapi kemudian menorehkan jejak berbeda sebagai Menteri Pertahanan.

Di mata Jokowi, Ryamizard dikenang bukan karena jabatan yang gagal diraihnya, melainkan karena karakter kepemimpinan yang tetap melekat hingga akhir hayatnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya