Tiga Kali Nonton ‘Pesta Babi’, Pendeta Daniel Harahap Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Luka Papua!

DEMOCRAZY.ID – Film dokumenter Pesta Babi memantik diskusi panas tentang Papua, ketidakadilan, dan praktik korupsi yang dinilai telah mengakar di Indonesia.

Pendeta HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Daniel Taruliasi Harahap menyampaikan refleksinya yang tajam tanpa tedeng aling-aling, setelah mengaku sudah menonton 3 kali film dokumenter tersebut.

Karenanya Pendeta Daniel sampai pada satu kesimpulan mutlak mengenai hulu dari segala penderitaan yang terjadi di Papua, seperti dalam film Pesta Babi.

Ia secara tegas menyebut korupsi sebagai akar utama persoalan Papua, bahkan menjadi sumber pembusukan negara yang merambah hampir seluruh lembaga, mulai dari pemerintahan hingga institusi keagamaan.

Pernyataan keras itu disampaikan Daniel usai menonton film karya jurnalis dan sutradara Dandhy Laksono tersebut bersama komunitas Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta di Kampus STFT Proklamasi 27, Jakarta Pusat, pada 25 Mei 2026, seperti yang diungkapkan di akun media sosial miliknya.

Dalam refleksinya, Danielmenyimpulkan bahwa tragedi sosial, konflik agraria, dan penderitaan masyarakat Papua tidak bisa dilepaskan dari praktik korupsi yang sistemik.

“Saya sudah sampai pada kesimpulan: akar dari masalah Papua dan Indonesia adalah korupsi. Sekali lagi: korupsi,” ujar Daniel.

Menurutnya, praktik korupsi tidak hanya terjadi di pemerintahan, parlemen, lembaga peradilan, dan aparat penegak hukum, tetapi juga telah menyusup ke institusi militer, pendidikan, hingga lembaga keagamaan.

“Korupsi di pemerintahan, korupsi di parlemen, korupsi di peradilan dan lembaga penegakan hukum, juga korupsi di militer. Bahkan kejahatan keuangan di lembaga keagamaan, masyarakat, dan pendidikan,” katanya.

Papua Disebut Menangis dalam Sunyi

Daniel juga menyinggung pengalaman pribadinya saat tinggal di pedalaman Papua pada 1986.

Selama dua setengah bulan, ia pernah menetap di lembah Yali, tepatnya di Kosarek, wilayah yang berjarak sekitar setengah jam penerbangan dari Wamena.

Meski belum pernah mengunjungi Papua Selatan atau Merauke, pengalaman tinggal di Papua membuatnya merasa memiliki ikatan emosional dengan penderitaan masyarakat setempat.

Ia mengaku ikut berdoa agar jeritan masyarakat Papua didengar, terutama di tengah konflik perebutan tanah dan hutan yang disebut menjadi sumber kehidupan warga lokal.

“Kristus yang pernah mati tersalib kiranya mendengar jeritan dan air mata rakyat dan tanah Papua,” ungkap Daniel.

Ia juga menyinggung simbol salib merah yang disebut kini didirikan masyarakat Papua Selatan di ribuan titik sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak-pihak yang dianggap merampas ruang hidup mereka.

Gereja Diingatkan Jangan Terjebak Kekuasaan

Dalam refleksinya, Daniel memberikan kritik tajam terhadap gereja dan para pelayan agama.

Ia mengingatkan bahwa gereja bisa dengan mudah dijinakkan kekuasaan jika tergoda kemewahan dan kepentingan finansial.

“Khusus kita para pelayan gereja, mari kembali hidup jujur dan sederhana. Tidak usah lagi mimpi hidup bergelimang kemewahan dan kesenangan,” tegasnya.

Menurut Daniel, ketika gereja kehilangan integritas moral, maka institusi keagamaan berpotensi diperalat untuk membenarkan ketidakadilan atas nama pembangunan, persatuan, ketahanan pangan, maupun proyek energi.

“Jika tidak, gereja dan pelayannya akan mudah disuap, dijinakkan, dijebak, dan diperalat membenarkan penindasan dan ketidakadilan di Papua dan Indonesia,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menyentuh isu sensitif tentang relasi kekuasaan, pembangunan, dan suara moral lembaga keagamaan di tengah konflik sosial yang berkepanjangan.

Daniel sendiri mengaku sulit mengungkapkan perasaannya setelah film selesai diputar.

“Speechless. Kehilangan kata-kata,” tuturnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya