

DEMOCRAZY.ID – Keretakan diplomatik di barisan sekutu terdekat mulai terendus ke publik.
Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan sempat memanas menyusul adanya perbedaan pandangan yang sangat tajam mengenai kelanjutan konflik bersenjata dengan Iran.
Ketegangan antar-kedua pemimpin negara ini mencapai puncaknya dalam sebuah sambungan telepon yang berlangsung sengit pada Selasa (19/5/2026).
Pembicaraan tersebut dilaporkan berjalan amat sulit hingga memicu kepanikan luar biasa di internal pemerintahan Israel.
Melansir laporan media investigasi berbasis di AS, Axios, Minggu (24/5/2026), reaksi Netanyahu digambarkan sangat emosional begitu mendengar arah kebijakan luar negeri terbaru yang dipaparkan oleh Trump.
“Rambut Bibi (panggilan akrab Netanyahu) seperti terbakar setelah telepon itu,” beber seorang sumber diplomatik senior kepada Axios.
Kabar mengenai kepanikan Netanyahu ini bahkan langsung menyebar cepat ke lingkaran politik di Capitol Hill, Washington DC.
Laporan tersebut diperkuat oleh pernyataan sumber lain yang menyebutkan bahwa Duta Besar Israel untuk Washington sampai harus turun tangan menemui para anggota parlemen AS demi menyampaikan kekhawatiran mendalam sang perdana menteri.
Bagi orang-orang di lingkaran dalamnya, reaksi emosional pemimpin Israel tersebut dinilai lumrah.
Berdasarkan informasi sumber internal, Netanyahu memang selalu dirundung kecemasan tinggi setiap kali AS mulai membuka pintu kompromi, meskipun upaya-upaya negosiasi terdahulu sempat berulang kali gagal.
“Bibi selalu khawatir,” ungkap sumber tersebut singkat.
Inti dari perselisihan tajam kedua pemimpin ini berakar pada perbedaan strategi yang sangat kontras terkait masa depan perang dengan Iran.
Dalam panggilan telepon itu, Trump membeberkan rencana Washington untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi internasional.
Trump mengungkapkan bahwa pihak mediator tengah mengupayakan sebuah letter of intent (surat pernyataan kehendak) yang akan diteken oleh AS dan Teheran.
Langkah berani ini bertujuan untuk mengakhiri perang secara resmi dan memulai periode negosiasi maraton selama 30 hari ke depan.
Agenda perundingan tersebut nantinya akan mencakup pembatasan program nuklir Iran serta pembantuan kembali akses Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker dunia.
Namun, Netanyahu bersikap skeptis dan menolak mentah-mentah skenario tersebut.
Ia justru mendesak agar operasi militer gabungan terus digeber demi menghancurkan kemampuan militer Iran secara lebih masif sekaligus meruntuhkan rezim di Teheran.
Di sisi lain, Trump bergeming dan memilih untuk memberikan kesempatan pada jalur damai dalam beberapa hari ke depan, walau tetap menegaskan bahwa opsi militer tidak sepenuhnya dihapus dari meja kerja Pentagon.
“Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan,” tegas Trump membela keputusannya.
Presiden berusia 79 tahun itu juga melayangkan peringatan keras bahwa mesin perang AS bisa kembali berlanjut ‘sangat cepat’ jika Washington tidak mendapatkan jawaban dan komitmen yang tepat dari pihak Teheran.
Kendati sempat terlibat adu mulut dengan Netanyahu mengenai masa depan Timur Tengah, Trump menepis kabar yang menyebutkan aliansi kedua negara retak.
Ia menegaskan hubungan personal mereka tetap baik dan koordinasi intelijen tetap berjalan erat.
Dengan nada jemawa khasnya, Trump bahkan mengklaim dirinya memiliki pengaruh politik yang sangat besar untuk mendikte sang pemimpin Israel.
“Dia (Netanyahu) akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” pungkas Trump penuh percaya diri.
Sumber: Inilah