DEMOCRAZY.ID – Kalimantan Timur (Kaltim) diprediksi akan menghadapi gelombang massa besar pada Selasa (21/4/2026).
Bertepatan dengan Hari Kartini, ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim bersama elemen mahasiswa bakal turun ke jalan untuk memprotes kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.
Protes ini muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan publik terhadap kebijakan anggaran Pemerintah Provinsi Kaltim yang dianggap jauh dari semangat efisiensi.
Baca JugaLihat postingan ini di Instagram
Baca JugaLihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh katakaltim.com (@katakaltimcom)
Sorotan utama tertuju pada alokasi fantastis pengadaan mobil dinas seharga Rp 8,5 miliar dan renovasi rumah jabatan senilai Rp 25 miliar, yang dinilai mencederai rasa keadilan di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.
Selain itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Kalimantan Timur juga melayangkan imbauan kepada massa aksi agar tetap menjaga ketertiban umum selama menyampaikan aspirasi, terutama dengan tidak melakukan penutupan akses jalan.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kaltim, Heru Santosa, mengungkapkan bahwa titik konsentrasi massa diprediksi bermula di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kaltim.
Namun, pihak Dishub tetap mengantisipasi kemungkinan adanya pergeseran gelombang massa menuju kawasan Kantor Gubernur Kaltim.
“Infonya cuma kumpulnya di kantor DPRD, tapi apakah akan menuju kantor Gubernur belum tau,” ujar Heru, dikutip pada Senin (20/4/2026).
Berikut enam fakta di balik polemik tersebut:
Polemik ini memuncak saat rencana pengadaan kendaraan dinas gubernur mencuat ke publik pada Februari lalu. Rudy Mas’ud disebut membutuhkan SUV hybrid bermesin 3.000 cc dengan spesifikasi offroad senilai Rp 8,5 miliar.
Meski Rudy beralasan pengadaan ini demi menjaga “marwah” Kaltim sebagai penyangga IKN saat menyambut tamu global, publik menilai anggaran tersebut sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi rakyat.
Setelah gelombang protes awal, pengadaan ini akhirnya dibatalkan melalui pengumuman di media sosial.
Belum usai isu mobil dinas, publik kembali dikejutkan dengan anggaran renovasi rumah jabatan gubernur yang mencapai Rp 25 miliar.
Renovasi ini meliputi perbaikan fasilitas internal seperti toilet, lampu, hingga pengadaan perabotan seperti sofa, alat fitnes, meja biliar, dan akuarium.
Gubernur Rudy Mas’ud berdalih bahwa langkah renovasi total merupakan sebuah keharusan demi mengembalikan fungsi rumah jabatan sebagai tempat tinggal yang representatif.
Pembenahan fisik hingga pengadaan fasilitas di dalamnya sangat mendesak dilakukan agar bangunan tersebut kembali layak untuk dihuni, mengingat bangunan tersebut sudah lama tidak ditempati oleh pejabat sebelumnya.
Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim menilai kebijakan belanja Pemprov Kaltim bertolak belakang dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh kepala daerah melakukan efisiensi anggaran negara.
Rencana penggunaan dana publik untuk membiayai kebutuhan pejabat di tengah kondisi masyarakat yang masih berjuang menghadapi kesulitan ekonomi dianggap sebagai cerminan ketidakpekaan sosial.
Sorotan tajam juga mengarah pada dominasi keluarga Mas’ud atau dikenal dengan Bani Mas’ud dalam struktur kekuasaan di Kaltim.
Kedekatan hubungan keluarga antara gubernur dan Ketua DPRD Kaltim dinilai berpotensi menimbulkan konflik kepentingan serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Massa mendesak DPRD Kaltim tetap menjaga independensi dan tidak terjebak dalam hubungan personal.
Persiapan aksi besar ini mendapat dukungan luas. Di posko koordinasi, bantuan logistik terus mengalir mulai dari nasi bungkus, singkong, pisang, hingga donasi uang tunai melalui QRIS yang mencapai puluhan juta rupiah.
Menariknya, donasi tidak hanya datang dari kalangan mampu, tetapi juga dari pemulung yang menyumbang Rp 20 ribu hingga anak SD yang menyisihkan uang sakunya sebesar Rp 1.000.
Aksi pada 21 April diprediksi menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar di Kaltim dalam beberapa tahun terakhir.
Sekitar 3.000 hingga 4.000 orang dari 60 elemen organisasi masyarakat (ormas), LSM, dan aliansi mahasiswa dikabarkan siap turun ke jalan.
Massa dijadwalkan berkumpul di depan Kompleks Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Timur di Jalan Teuku Umar, kemudian bergerak menuju Kantor Gubernur Kalimantan Timur di Jalan Gajah Mada untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Sumber: Suara