Tak Tahu Malu? Hendrik Irawan Kembali Pamer “Joget Cuan” di MBG, Publik Murka!

DEMOCRAZY.ID – Unggahan pegiat media sosial sekaligus tokoh intelektual NU, Hilmi Firdausi, kembali memicu perbincangan hangat di platform X (sebelumnya Twitter).

Melalui akun resminya @Hilmi28, ia menyoroti sosok Hendrik Irawan, mitra pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sebelumnya sempat viral akibat aksi kontroversialnya.

“Saya kira orang ini sudah benar-benar dikeluarkan dari program MBG, ternyata dia masih ada dan tetap dengan joget-jogetnya 😪,” tulis Hilmi Firdausi dalam unggahannya yang menyertakan potongan video pendek dikutip Sabtu (5/6/2026).

Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah dilihat lebih dari 500 ribu kali dan memancing beragam reaksi dari warganet.

Banyak netizen yang mempertanyakan ketegasan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait status kemitraan pengusaha asal Bandung Barat tersebut.

👇👇

Kilas Balik Kontroversi “Joget Cuan Rp6 Juta”

Nama Hendrik Irawan pertama kali mencuat ke publik setelah video dirinya berjoget di dalam area dapur komersial SPPG viral.

Dalam narasi video yang beredar, ia disebut-sebut memamerkan keuntungan operasional atau insentif mencapai Rp6 juta per hari dari program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Aksi tersebut menuai kritik tajam karena dinilai tidak etis dan memamerkan kemewahan (flexing) di tengah program sosial yang ditujukan untuk perbaikan gizi anak-anak sekolah.

Imbas dari kegaduhan tersebut, BGN sempat membekukan sementara izin operasional dapur SPPG milik Hendrik di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, demi melakukan evaluasi standar infrastruktur dan teknis.

Respons Beragam dari Warganet

Kembalinya video atau aktivitas Hendrik di media sosial memicu sentimen negatif di kalangan netizen.

Sebagian besar menyayangkan sikap sang pengusaha yang dinilai kurang peka terhadap sensitivitas program publik.

Meski ada pula yang mencoba melihat dari sisi positif keberlangsungan program.

“Gara² kondisi indonesia saat ini, di era prabowo, ternyata mendingan zaman jokowi. Udh terlalu parah ini,” tulis seorang netizen di kolom komentar.

“Berarti yg kmrn nangis2 karena SPPG nya tutup adalah hoax. Pembohongan publik nama nya. Btw Dalam ruangan pake kaca mata hitam esensi nya apa?” tanya netizen lainnya.

Hingga saat ini, pihak Badan Gizi Nasional belum memberikan keterangan resmi terbaru mengenai status final dari operasional maupun evaluasi berkala terhadap unit-unit SPPG yang dikelola oleh Hendrik Irawan.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya