DEMOCRAZY.ID – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan berada di titik nadir.
Sejumlah pejabat Gedung Putih dibuat terkejut oleh pemberitaan media Israel yang mengklaim Presiden Donald Trump akan menjamu Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pada Senin, 20 Juli 2026.
Fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya: tidak ada jadwal pertemuan sama sekali di antara kedua pemimpin tersebut.
Mengutip laporan Axios, Sabtu (18/7/2026), klaim sepihak ini mencuat setelah Netanyahu secara agresif mencoba mendapatkan slot pertemuan resmi selama lebih dari dua pekan terakhir.
Sikap abai dari Trump ini terbilang janggal.
Padahal, sejak Trump kembali menduduki kursi kepresidenan satu setengah tahun lalu, Netanyahu tercatat sudah enam kali mengunjungi Gedung Putih.
Biasanya, agenda pertemuan mereka selalu bisa disepakati hanya dalam hitungan jam.
Enggannya Trump tampil di depan kamera bersama Netanyahu menjadi sinyal kuat adanya keretakan prinsipil. Kekecewaan Washington tampaknya sudah memuncak, tepat lima bulan setelah kedua negara berkomitmen dalam operasi militer bersama.
Ketidakpastian ini sebenarnya sempat coba diredam.
Pada awal Juli lalu, Trump menyebut Netanyahu sempat menelepon untuk mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan ke-250 AS sekaligus meminta izin berkunjung.
Trump kala itu mengisyaratkan pertemuan bisa diatur setelah ia pulang dari KTT NATO di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli.
Namun hingga Trump mendarat kembali di Washington, konfirmasi jadwal tersebut tidak pernah terwujud.
Situasi makin kabur saat mantan Senator AS, Lindsey Graham, wafat pada Minggu (12/7/2026).
Kantor Netanyahu langsung menyebarkan kabar ke media bahwa sang PM akan terbang ke AS untuk menghadiri pemakaman sekaligus menemui Trump pada 20 Juli.
Persiapan bahkan sudah matang; pesawat kepresidenan disiapkan dan tim protokol keamanan sudah dikirim lebih dulu ke Washington.
Secara mengejutkan, pada Kamis (16/7/2026), kantor Netanyahu membatalkan total perjalanan tersebut dengan alasan prosesi pemakaman Lindsey Graham ditunda.
Namun, pejabat internal Gedung Putih membocorkan alasan aslinya: Trump memang tidak pernah memberikan lampu hijau untuk bertemu.
“Kesan kami adalah Bibi (sapaan akrab Netanyahu -Red) mencoba memaksakan agar pertemuan itu terjadi,” ungkap salah satu pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, sumber internal Israel menyebut pembatalan ini juga merupakan kalkulasi taktis.
Netanyahu memilih tetap berada di dalam negeri karena mengendus kabar bahwa AS bersiap meningkatkan intensitas serangan ke Iran, sehingga ia harus bersiap mengantisipasi serangan balasan langsung dari Teheran ke Israel.
Ketegangan di balik layar ini sejatinya dipicu oleh kumulasi kekesalan Trump.
Tepat sebelum Trump berangkat ke KTT NATO di Ankara, Netanyahu tampil di Fox News dan secara terbuka mengkritik rencana AS menjual jet tempur siluman F-35 ke Turki.
Langkah Netanyahu yang mencampuri urusan domestik dan kebijakan luar negeri AS ini dilaporkan membuat Trump sangat naik pitam.
Hubungan makin diperkeruh oleh drama intelijen saat Trump berada di Turki.
Pihak Israel menyodorkan data yang mengklaim pejabat senior Iran telah memerintahkan pembunuhan terhadap Trump di Ankara.
Informasi ini sempat membuat Secret Service tegang, memperketat pengamanan, hingga mengganti pesawat kepresidenan dengan versi Air Force One yang lama.
Namun setelah ditelusuri, badan keamanan AS dan otoritas Turki yang melakukan investigasi mendalam menyimpulkan bahwa informasi tersebut mentah, bersifat tunggal, dan tidak terkoroborasi di lapangan.
“Informasi itu lebih bersifat aspirasional (keinginan sepihak) daripada operasional,” tutur seorang pejabat AS.
Insiden intelijen yang dianggap ‘zonk’ ini telanjur merusak reputasi Netanyahu di Washington.
Sang PM kini menghadapi resistensi hebat, baik dari kubu Demokrat maupun dari lingkaran inti pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again) milik Trump.
Kini, prediksi-prediksi optimistis Netanyahu terkait jalannya perang di Timur Tengah mulai diragukan banyak pejabat tinggi Washington.
Mereka menilai kalkulasi yang disodorkan Israel sering kali meleset dari kenyataan di lapangan.
Rasa frustrasi Washington akhirnya pecah menjadi tindakan politik yang nyata pada Rabu (15/7/2026).
Sebanyak 103 anggota faksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS secara mengejutkan mengambil langkah ekstrem dengan menyetujui pemotongan bantuan militer senilai US$3 miliar atau setara Rp54,4 triliun kepada Israel.
Pemotongan anggaran ini menjadi tamparan keras sekaligus bentuk mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Tekanan berat ternyata tak hanya datang dari oposisi.
Pada hari yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance, saat berbicara dalam podcast Joe Rogan, secara blak-blakan menuduh sejumlah elemen di dalam pemerintahan Netanyahu sengaja merongrong kebijakan Iran yang telah disusun pemerintahan Trump.
Motifnya pun disebut sensitif: demi memperpanjang durasi perang untuk kepentingan politik domestik mereka sendiri.