DEMOCRAZY.ID – Wacana menjadikan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat finansial internasional kembali memanas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak ide tersebut. Alasannya karena IKN masih terlalu sepi.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya pada awal Juli 2026 lalu.
Menkeu Purbaya menilai kondisi IKN saat ini belum memenuhi syarat sebagai hub keuangan global karena aktivitas dan okupansi yang masih minim.
Foto udara IKN yang ikut beredar menunjukkan sejumlah gedung bertingkat masih dalam tahap konstruksi, dengan jalan dan area hijau luas yang tampak lengang.
Penolakan itu langsung disambung kritik tajam dari penulis dan akuntan Tere Liye.
@balikpapantv_officialMenteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menolak Pusat Finansial Internasional (PFI) ditempatkan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Purbaya menegaskan, IKN terlalu sepi. ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2026). Dia menyebut, salah satu alternatifnya adalah di Bali. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah berencana membangun Pusat Finansial Khusus (special financial center). Upaya ini dilakukan untuk mengoptimalkan peran Indonesia sebagai tujuan investasi yang aman di tengah gejolak geopolitik global. Sumber : kompas.com Aset : TT/@pikiranrakyat
Lewat pernyataannya, Tere Liye menyoroti meredupnya gaung IKN di ruang publik.
“Begitulah, Bahkan buzzer, artis2, seleb2 yg dulu sibuuuk sekali jilatin IKN, mereka sekarang juga males posting IKN. Duuh. Netizen dulu yg semangat live dan update dari IKN, postingannya tambah sepi, dan eh malah ikutan mengkritik pemerintah akhirnya,” tulisnya, dikutip pada Sabtu (18/7/2026).
Tere Liye juga menyinggung keberlanjutan proyek yang disebutnya hanya Pak Basuki saja yang masih kemungkinan masih semangat.
“Entahlah apa yang dia cari. Karena dia ini lupa, kalau cuma bangun, bangun, bangun, maka tukang kompleks juga bisa. Duitnya dari mana, kemudian buat apa? Bermanfaat tidak? Bingung deh. Sementara argo biaya maintenance terus jalan,” kritik penulis novel-novel best seller ini.
Menurut Tere Liye, posisi IKN saat ini menggantung di pemerintahan.
“IKN ini, bahkan tidak ada lagi penting-pentingnya di mata pemerintahan sekarang. Hidup segan mati tak mau,” tambahnya.
Tere Liye menutup pernyataannya dengan tantangan terbuka kepada publik di media sosial yang masih memframing IKN seolah ramai.
“Nah, jika kamu tidak terima analisis Tere Liye ini, bilang IKN rame, jaya raya, hebat sentosa, ehem, ayo teruskan posting live liputan dari IKN. Kamu tetap fight gitu loh, meskipun postingan-postinganmu sepiiii. Persis IKN yang sepiiii,” tutupnya.
Sementara itu, salah seorang konten kreator, Ahmad Suryadi mengumpamakan IKN seperti rumah mewah yang sudah jadi, tapi tamunya masih mikir-mikir mau datang.
Jalan sudah lebar, gedung sudah berdiri, taman sudah hijau.
Tinggal menunggu siapa yang benar-benar betah menghuninya.
“Ada yang bilang IKN adalah kota masa depan. Ada juga yang bercanda, masa depannya sudah datang, masa kini masih menyusul,” sindir Ahmad Suryadi.
Terlepas dari pro dan kontra, lanjutnya, IKN tetap menjadi proyek besar yang akan dinilai oleh waktu.
Sebab dalam sejarah, sebuah kota bukan hanya dibangun dengan beton dan baja, tetapi juga dengan aktivitas, kehidupan, dan orang-orang yang membuatnya hidup.
“Kalau sekarang masih terlihat lengang, mungkin bukan karena kotanya sepi, tapi karena masa depannya sedang mencari alamat,” tutupnya, menyindir.