Plot Twist Kasus BEM UBK! Sebelum Terima Rp20 Juta, Eks Ketua BEM Ternyata Sempat Tolak Mentah-Mentah Tawaran Rp70 Juta

DEMOCRAZY.ID – Pihak Universitas Bung Karno (UBK) membeberkan hasil investigasi terkait kasus suap yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FH UBK, Muhammad Abdi Maludin.

Diketahui, uang yang diterima bertujuan agar Abdi dan rekan-rekannya tidak menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, tetapi ke Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (15/6/2026) lalu.

Ketua tim investigasi, Eko Suryo S, menuturkan bahwa Abdi sempat ditawari uang hingga sebesar Rp70 juta oleh seorang polisi.

Hal itu diketahui setelah Abdi dimintai keterangan oleh tim investigasi.

Eko menjelaskan uang itu ditawarkan ke Abdi pada Minggu (14/6/2026) atau sehari sebelum aksi demonstrasi digelar.

“Jadi sebelumnya ada dua tawaran, Rp 50 juta dan Rp 70 juta. Dalam dua kali tawaran itu, aparat yang menemui Abdi beda orang,” kata Eko pada Jumat (26/6/2026).

Namun, Eko mengungkapkan bahwa tawaran uang tersebut tidak digubris oleh Abdi.

Hanya saja, meski enggan untuk menerima uang tersebut, Eko mengatakan bahwa Abdi tetap menerima uang sebesar Rp20 juta seperti yang diakui sebelumnya.

Kendati demikian, Abdi tetap tidak melaksanakan permintaan dari polisi tersebut untuk memindah lokasi demonstrasi.

Eko menduga bahwa Abdi memang mengerjai polisi tersebut.

“Tetapi dari kesan yang kami tangkap, dia (Abdi) seperti mengerjai mereka. Jadi uang (akan) diterima, tapi tidak menuruti perintah untuk menggeser lokasi demo,” jelas dia.

Uang Baru Diterima usai Demonstrasi, Langsung Dibagi

Eko menuturkan sebenarnya uang Rp20 juta akan diserahkan ke Abdi pada Senin pagi tepat sebelum aksi demonstrasi digelar.

Namun, pada momen tersebut, Abdi mengaku belum mau untuk menerimanya.

Selain polisi, Eko mengungkapkan ada dua orang lain yang turut dalam pertemuan tersebut yaitu seniornya yang berstatus sebagai alumni UBK.

“Dari pengakuan Abdi, waktu itu tiga orang sudah siapkan uang. Sudah dibawa Rp 20 juta cash. Sudah akan dikasih tapi Abdi belum mau menerima,” kata Eko.

“Asalnya uangnya dari aparat tersebut,” lanjut dia.

Akhirnya, kata Eko, uang itu baru diterima Abdi pada Senin malam atau setelah aksi demonstrasi digelar.

Dia menjelaskan orang yang memberikan uang tersebut adlaah salah satu senior Abdi.

Sementara, lokasi pemberian dilakukan di sebuah kafe di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Eko menjelaskan uang tersebut lantas dibagikan Abdi kepada empat rekannya pada keesokan harinya atau Selasa (16/6/2026).

Mereka adalah Wakil Ketua BEM FH Rafly Maulana Akbar, Pengurus BEM FH Mubarak Tuasamu, mantan Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UBK Pujiono, dan mantan Wakil Ketua BEM FEB UBK Muhammad Rafi Bastian.

Ketika dihubungi pada Jumat (26/6/2026), Abdi mengaku uang tersebut sebagian digunakan untuk kebutuhan logistik saat aksi demonstrasi.

“Sebagian dana yang kemudian diberikan kepada saya digunakan semata-mata untuk kebutuhan teknis aksi,” ujar Abdi.

Dia juga mengeklaim bahwa diterimanya uang Rp20 juta itu bukan dalam rangka untuk menghentikan aksi demonstrasi.

Hal itu, sambungnya, dibuktikan dengan dirinya dan perwakilan BEM UBK tetap menggelar aksi demonstrasi.

Dengan hal tersebut, Abdi menilai ada pihak-pihak tertentu yang marah akan pendiriannya tersebut.

Dia menganggap informasi bohong terkait dirinya semakin meluas buntut tindakannya tersebut.

“Informasi-informasi yang tidak utuh, narasi yang dipelintir, dan tekanan terhadap lingkungan organisasi kemudian memicu kemarahan sejumlah kawan,” lanjut dia.

Abdi menganggap sikapnya untuk tetap menggelar aksi demonstrasi meski telah menerima uang menjadi ‘senjata’ untuk melengserkan dirinya sebagai Ketua BEM FH UBK.

Kendati demikian, penjelasannya tersebut bukan dalam rangka untuk membela diri.

Ia hanya berharap agar seluruh gerakan mahasiswa tidak dijadikan alat untuk mencari keuntungan oleh pihak tertentu.

“Melainkan agar publik dan kawan-kawan mahasiswa dapat melihat persoalan secara utuh: bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh dijadikan komoditas, alat tawar-menawar, atau ruang mencari keuntungan oleh pihak mana pun,” jelasnya.

Awal Mula Abdi dkk Terungkap Terima Suap

Sementara itu, salah satu mahasiswa FH UBK, Nailah Hartono membeberkan awal mula pihak kampus dan mahasiswa mengetahui bahwa Abdi dkk menerima uang suap.

Dia mengatakan hal itu bermula dari terungkapnya ketidaksolidan dari empat BEM Fakultas di UBK untuk menggelar aksi demonstrasi.

Namun meski ada keretakan, keempat organisasi mahasiswa tersebut tetap menggelar aksi demonstrasi.

Empat BEM yang ikut yaitu BEM Fakultas Hukum, BEM Fakultas Teknik, BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Forum itu muncul karena banyaknya desakan dari para mahasiswa. Sebenarnya sebelumnya saat dua atau tiga hari aksi tersebut, memang banyak simpang siur di kalangan mahasiswa terkait aksi ini.”

“Akhirnya kan yang ikut aksi tersebut ada dari beberapa BEM, ada BEM FH, BEM FISIP, BEM FT, dan BEM FE,” katanya dalam program Saksi Kata yang diwawancarai redaksi Tribunnews dari Kantor Tribunnews Solo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (23/6/2026).

Nailah menuturkan meski mau untuk mengikuti aksi demonstrasi, tetapi dia menyebut di internal keempat organisasi mahasiswa tersebut telah terjadi perselisihan.

Salah satunya terkait dugaan Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdi Maludin menerima uang suap.

Dia mengatakan pertanyaan itu dilontarkan oleh perwakilan dari BEM FT dan FISIP.

Ia menjelaskan pertanyaan tersebut dilontarkan buntut sudah menjadi keresahan di kalangan mahasiswa UBK.

“Beberapa BEM FISIP dan BEM FT itu kayak untuk mencoba meminta Ketua BEM FH mengungkap apakah benar uang (dugaan suap) yang memang sudah dibicarakan para mahasiswa,” katanya.

“Akhirnya dari situlah forum ini terjadi dihadiri oleh banyak mahasiswa dan juga ketua-ketua BEM yang ikut konsolidasi aksi,” sambung Nailah.

Selain itu, Nailah juga menyebut adanya forum itu setelah mahasiswa UBK merasa kecewa karena adanya perwakilan dari kampusnya untuk bertemu Gibran.

Hal itu ditambah setelah ada akun anonim yang menginformasikan soal dugaan suap yang diterima oleh Abdi.

“Akan tetap semakin lama, ada muncul akun anonim menuntut bahwa katanya Abdi Maludin ini menerima uang. Dari situlah, akhirnya desakan-desakan itu ada dan terjadilah forum,” ujarnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya