DEMOCRAZY.ID – Rentetan gelombang demonstrasi di berbagai daerah digelar sejak Jumat (16/6/2026).
Mahasiswa di Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Malang, hingga Balikpapan turun ke jalan.
Massa aksi menyuarakan sejumlah tuntutan terkait evaluasi ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Penghapusan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga transparansi dan pemborosan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) juga menjadi tuntutan yang dicantumkan.
Dari rentetan demo itu, muncul massa tandingan yang mendukung program MBG. Mereka adalah emak-emak.
Sejumlah emak-emak mengikuti aksi unjuk rasa di Kawasan Monumen Nasional (Monas), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).
Dalam demo itu, mereka membawa panci, wajan, hingga berbagai alat masak.
Ada pula yang membentangkan sejumlah poster berisi dukungan agar program MBG tetap dilanjutkan.
Selain menyuarakan aspirasi, tujuan di balik hebohnya emak-emak melakukan demo karena ingin membuat konten TikTok.
Wulan, seorang ibu tiga anak dari Jakarta Timur memberikan pengakuannya terkait program MBG.
Ia mengatakan, MBG memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi keluarganya.
Tiga anaknya yang masing-masing duduk di bangku SD, SMP, dan SMA mendapat MBG di sekolah.
“Manfaat yang dirasakan ya memang bermanfaat sekali, lebih irit. Anak saya tiga, jadi uang jajan mereka sekarang utuh dan bisa ditabung karena sudah mendapatkan jatah makan di sekolah,” ujar Wulan di lokasi aksi, Senin (22/6/2026).
Kendati merasakan dampak positif dari segi ekonomi, Wulan tak menampik masih banyak kekurangan dari program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Ia mengungkapkan, anaknya kerap mengeluh tentang kondisi makanan yang mereka terima di sekolah.
“Anak saya sering komplain. Pernah bilang, ‘Mama tadi aku di sekolah dapat MBG tapi ada ulatnya di sayuran, di seladanya’.”
“Atau pernah juga kebagian tomat yang rasanya sudah tidak enak,” ungkapnya.
Wulan juga mengakui, anak-anaknya cenderung kurang menyukai menu makanan siap saji yang dibagikan, seperti burger.
“Lebih yang mereka sukai itu yang seperti yang fresh. Makanan seperti ayam atau daging yang benar-benar seperti masakan ibunya di rumah,” tambah Wulan.
Kendati demikian, ia tak setuju jika MBG disetop.
Sebab, menurutnya, manfaat dari program tersebut jauh lebih besar.
Ia pun berharap pemerintah dan pihak pengelola program dapat mengevaluasi cita rasa dan kandungan gizi agar tidak terkesan disajikan asal-asalan.
“Sebenarnya sih kalau disetop jangan ya, karena memang dampaknya untuk anak-anak itu sudah bagus. Hanya mohon untuk diperbaiki saja.”
“Makanannya lebih dienakin lagi, lebih yang bergizi lagi dan tidak asal-asalan. Harus benar-benar bergizi untuk anak sekolah,” tuturnya.
Perwakilan Aliansi Warga Jakarta selaku koordinator aksi, Yadi mengatakan, MBG telah berjalan dengan baik dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
“Tuntutan kami jelas, koruptor wajib ditangkap, tapi program MBG harus tetap dilanjutkan. Tujuannya bagus untuk mencerdaskan anak-anak kita,” ujar Yadi di sela-sela aksi.
Menurutnya, persoalan korupsi yang dilakukan oleh oknum mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan program MBG.
“Itu konteksnya berbeda. Kalau ada korupsi, ya oknumnya yang ditindak. Kita sebagai masyarakat justru harus ikut mengawasi sistemnya agar berjalan sesuai SOP,” tegasnya.
Selain Aliansi Masyarakat Jakarta, demo itu juga diikuti kelompok Emak-emak Bersatu Mendukung MBG.
Saat aksi demo dimulai, para emak-emak mendapat wajan baru yang dibagi cuma-cuma.
Selain itu ada pula roti, susu, dan buah-buahan untuk mereka konsumsi.
Yuyun, seorang warga Jakarta Timur yang ikut demo mengaku mendapat uang saku senilai Rp100 ribu.
“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,” ungkap Yuyun saat baru tiba di lokasi bersama rekan-rekannya.
Yuyun mengaku mendukung program MBG, sebab anaknya merupakan bagian dari penerima.
“Semenjak ada MBG, anak saya jadi gemuk, sehat, pintar. Harapannya lebih bagus lagi, meningkat,” tutur Yuyun.
Sumber: Tribun