DEMOCRAZY.ID – Pemerintah Thailand tengah gencar mempromosikan proyek Land Bridge senilai 1 triliun baht (Rp 532 triliun).
Land Bridge merupakan megaproyek infrastruktur transportasi dan logistik yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya kerawanan di jalur pelayaran global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz, sebagaimana dilansir AFP, Senin (27/4/2026).
Ditutupnya selat vital bagi 20 persen minyak dunia tersebut memberikan momentum baru bagi Thailand untuk menciptakan koneksi bagi dua samudra besar tersebut.
Pada Senin, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul secara khusus mengincar Singapura sebagai calon investor potensial Land Bridge.
Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, Anutin memaparkan rencana besar yang diharapkan dapat menjadi jalur alternatif selain Selat Malaka.
Juru bicara pemerintah Thailand, Rachada Dhanadirek, mengungkapkan bahwa pihak Singapura menunjukkan ketertarikan terhadap rencana tersebut.
“Dia (Anutin) melihatnya sebagai peluang ekonomi bagi Thailand dan bagi investor asing, jika proyek ini berhasil didorong maju,” ujar Rachada merujuk pada respons Chan Chun Sing.
Proyek Land Bridge merupakan gagasan lama yang dihidupkan kembali untuk mengatasi kerentanan titik-titik penyempitan pelayaran dunia alias chokepoints.
Proyek ini diproyeksikan menjadi rute alternatif bagi Selat Malaka,jalur sepanjang 900 kilometer yang melintasi Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Selat Malaka selama ini menjadi rute laut terpendek dari Asia Timur menuju Timur Tengah dan Eropa.
Secara teknis, Land Bridge akan menghubungkan dua pelabuhan laut yakni Pelabuhan Ranong di Laut Andaman dan Pelabuhan Chumphon di Teluk Thailand.
Kedua pelabuhan ini akan dihubungkan oleh infrastruktur sepanjang 90 kilometer yang mencakup jalan raya, rel kereta api, serta pipa energi.
Menteri Transportasi Thailand Phiphat Ratchakitprakarn menyatakan bahwa pemerintah akan segera mengajukan proposal ini ke kabinet pada Juni atau Juli mendatang.
Jika berjalan sesuai rencana, pencarian investor akan dimulai pada kuartal ketiga tahun ini.
“Proposal diharapkan dapat diajukan ke kabinet pada Juni atau Juli dan pemerintah akan mencari investor untuk proyek yang diperkirakan bernilai 1 triliun baht tersebut,” ungkap Phiphat pada akhir pekan lalu.
Sebelumnya, proyek ini sempat tertunda karena gejolak politik, meskipun administrasinya telah merancang undang-undang terkait.
Masalah penilaian dampak lingkungan dan kesehatan yang belum selesai, serta penolakan dari sebagian warga lokal, sempat menjadi hambatan utama.
Pemerintah Thailand menilai konsep Land Bridge jauh lebih layak dijalankan dibandingkan ide Terusan Kra.
Terusan Kra merupakan ide kuno untuk memotong semenanjung Thailand selatan guna membangun kanal pelayaran.
Akan tetapi, megaproyek itu menuai banyak penolakan karena alasan lingkungan, finansial, hingga masalah keamanan nasional.
Sumber: Kompas