

DEMOCRAZY.ID – Aktivis sosial, Muhammad Said Didu, menuding adanya faksi di dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang disebut berpihak kepada ‘Geng Solo’ dan oligarki.
Menurutnya, kelompok tersebut diduga bekerja secara sistematis untuk menghambat sejumlah agenda prioritas pemerintahan.
Said Didu menyebut, sedikitnya ada tiga program utama Presiden Prabowo yang menjadi sasaran untuk digagalkan, yakni pemberantasan korupsi, penertiban oligarki, dan pengembalian aset negara.
Blak-blakan, Said Didu mengaku menduga terdapat kelompok tertentu di internal pemerintahan yang memiliki kepentingan berbeda dengan arah kebijakan Presiden.
“Ada faksi di dalam pemerintahan Prabowo yang memihak ke solo oligarki pacok. Dugaan saya itu yang terjadi,” ujar Said Didu, Rabu (29/7/2026).
Ia kemudian menegaskan kembali dugaannya tersebut. Bahwa faksi tersebut terafiliasi ke geng Solo yang merupakan jaringan Presiden sebelumnya, Jokowi.
“Ada faksi di dalam pemerintahan Prabowo yang memihak ke solo geng solo oligarki parcok untuk menggagalkan agenda tiga agenda utama Presiden Prabowo,” ucap mantan Sekretaris Kementerian BUMN ini.
Kata dia, agenda yang dimaksud meliputi pemberantasan korupsi, penertiban oligarki, serta pengembalian aset negara.
Selain menyinggung dugaan adanya faksi di pemerintahan, Said Didu juga menyoroti pemberitaan yang berkembang terkait mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Ia melihat terdapat upaya pembentukan opini yang menurutnya sangat merugikan pihak lain.
“Nah, coba lihat framingnya, menurut saya agak sangat sadis lah,” tukasnya.
Said Didu kemudian mencontohkan informasi yang sempat beredar mengenai temuan emas dan uang yang dikaitkan dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
“Coba bayangkan, pada saat ketemu emas dan uang di tempatnya Febrie Ardiansyah, langsung dinaikkan berapa jam kemudian bahwa itu adalah emas dan uangnya Sjafrie Sjamsoeddin,” terangnya.
Bukan hanya itu, pria kelahiran Kabupaten Pinrang ini mengaku mengenal Menhan Sjafrie Sjamsoeddin selama puluhan tahun.
Karena itu, ia menyatakan tidak percaya terhadap narasi yang berkembang.
“Saya lebih 30 tahun mengenal Sjafrie, saya betul-betul, saya bilang betapa negara ini rusaknya karena hanya framing seseorang,” terang eks anggota DPR RI itu.
“Saya paham dia. Gak mungkin melakukan itu. Kalian boleh berbohong. Kalian boleh berframing. Tapi saya menyatakan, saya paham dia,” tegas Said Didu.