Diam di Tengah Krisis, Jabatan Wapres Disebut-Sebut Jadi ‘Profesi’ Paling Enak Saat Ini

DEMOCRAZY.IDKritik tajam dilayangkan oleh mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Ardianto Satriawan, terhadap jabatan Wakil Presiden (Wapres) yang saat ini diemban oleh Gibran Rakabuming Raka.

Ardianto melabeli posisi tersebut sebagai “profesi paling enak” karena dinilai minim respons terhadap berbagai persoalan krusial yang tengah melanda bangsa.

Melalui akun X pribadinya, Ardianto menyoroti sikap diam Wapres di tengah rentetan kasus besar yang terjadi di Indonesia.

Ia membandingkan jabatan tersebut dengan ketidakaktifan figur pimpinan dalam menanggapi isu-isu strategis mulai dari dugaan korupsi hingga krisis ekonomi.

“Profesi paling enak sekarang: Wapres,” tulis Ardianto dalam cuitannya, dikutip Jumat (17/7/2026).

Daftar Kritik Ardianto

Dalam cuitannya tersebut, Ardianto merinci tujuh poin permasalahan nasional yang ia klaim tidak mendapatkan tanggapan memadai dari pihak Wakil Presiden, yaitu:

  1. Dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut mencapai angka miliaran rupiah per hari.
  2. Insiden meninggalnya lima peserta dalam latihan Komponen Cadangan (Komcad) KDMP.
  3. Tindakan Menteri Pekerjaan Umum (PU) yang memecat bawahannya terkait persoalan surat dinas ke luar negeri yang melibatkan anggota keluarga.
  4. Penemuan emas seberat 74 kg serta uang miliaran rupiah di kediaman Jampidsus.
  5. Masalah pemadaman listrik bergilir yang dipicu oleh dugaan korupsi dalam pengadaan batu bara.
  6. Nasib Duta Besar (Dubes) negara sahabat yang sempat terkatung-katung penugasannya selama berbulan-bulan.
  7. Anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat ke titik terendah sepanjang masa.

Untuk memperkuat kritiknya, Ardianto bahkan mengaitkan situasi saat ini dengan cuitan lawas dari akun @fufufafa pada 9 Mei 2014, yang pernah menyebut bahwa publik hampir melupakan eksistensi Wakil Presiden di Indonesia.

“Bener emang kata fufufafa,” tandasnya.

👇👇

Konteks Permasalahan Nasional

Kritik ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Nilai tukar Rupiah diketahui tengah mengalami depresiasi signifikan, mencetak rekor terburuk dalam sejarah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu aliran modal investor keluar ke aset yang lebih aman (safe haven).

Selain masalah ekonomi, isu mengenai terlantarnya calon duta besar asing di Jakarta juga sempat menjadi sorotan publik.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, sebelumnya secara terbuka mengkritik pihak Istana karena 17 calon duta besar asing sempat tertahan berbulan-bulan di Jakarta.

Hal tersebut terjadi akibat adanya penundaan dalam penyerahan Surat Kepercayaan (Letter of Credentials) kepada Presiden.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Sekretariat Wakil Presiden terkait kritik yang dilontarkan oleh Ardianto Satriawan.

Polemik ini menambah daftar panjang diskusi publik mengenai peran dan fungsi strategis Wakil Presiden dalam membantu menjalankan roda pemerintahan di tengah kompleksitas persoalan nasional.

Artikel terkait lainnya