DEMOCRAZY.ID – Mantan Capres nomor urut 1, Anies Baswedan, kembali menyampaikan pandangannya mengenai kondisi Indonesia yang menurutnya sedang menghadapi tekanan serius.
Anies merincikan sejumlah persoalan mulai dari kondisi rupiah, kenaikan harga, kesempatan kerja, daya beli masyarakat hingga tabungan rumah tangga yang disebut terus tergerus.
Di tengah situasi tersebut, Anies menilai pemerintah membutuhkan langkah yang lebih terbuka dan konsisten.
Menurutnya, publik tidak membutuhkan sekadar narasi yang menenangkan, melainkan kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran.
“Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja,” ujar Anies, Minggu (23/8/2026).
Anies menyebut tekanan ekonomi yang terjadi saat ini berpotensi langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.
Ia menyinggung kondisi rupiah, kenaikan harga kebutuhan, menyempitnya kesempatan kerja, melemahnya daya beli rumah tangga hingga tabungan masyarakat yang menurutnya ikut tergerus.
“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus,” ucapnya.
Lanjut Anies, persoalan ekonomi tersebut belum menjadi satu-satunya tantangan yang harus dihadapi Indonesia.
Ia juga mengingatkan adanya ketidakpastian geopolitik serta ancaman konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Anies turut menyinggung peringatan ilmuwan mengenai potensi El Nino yang disebutnya dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan.
“Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan, maka beratnya berlipat,” tukasnya.
Dalam situasi penuh tekanan tersebut, Anies menganggap pemerintah harus mampu memberikan kepastian kepada masyarakat maupun pelaku ekonomi.
Kata dia, kepastian tidak bisa dibangun hanya dengan pernyataan yang menenangkan tanpa diikuti keterbukaan mengenai kondisi sebenarnya.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian,” jelasnya.
Ia menegaskan, kepastian yang dimaksud bukan sekadar menciptakan kesan bahwa keadaan baik-baik saja.
“Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula, tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran,” timpalnya.
Anies juga menekankan bahwa pemerintah harus memiliki arah kebijakan yang jelas agar masyarakat dan pasar mengetahui ke mana Indonesia akan dibawa.
Anies kemudian mengkritik cara pemerintah menyampaikan kondisi ekonomi kepada publik.
Ia menilai ada kecenderungan hanya menampilkan informasi yang dianggap positif, sementara persoalan yang lebih buruk tidak disampaikan secara terbuka.
“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan,” cetusnya.
Selain persoalan data, Anies menyoroti pernyataan sejumlah pejabat ketika merespons kondisi serius.
“Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda,” sesalnya.
Kata Anies, perubahan kebijakan yang terlalu sering juga dapat menimbulkan ketidakpastian.
“Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” imbuhnya.
Anies juga mengatakan bahwa persoalan kepemimpinan bukan hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga keteladanan.
Ia mempertanyakan kondisi ketika masyarakat diminta melakukan penghematan, sementara pemerintah justru dinilai masih mengalokasikan energi dan anggaran untuk hal-hal yang bukan prioritas.
“Di saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas,” bebernya.
Anies kemudian menyampaikan kritik yang lebih tajam terhadap kondisi tersebut.
“Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” timpalnya.
Anies mengatakan persoalan yang terjadi semestinya tidak dianggap sebagai kritik dari satu atau dua pihak saja.
Menurutnya, peringatan mengenai kondisi Indonesia datang dari berbagai sumber, mulai dari ekonom dalam negeri hingga lembaga keuangan internasional.
“Peringatan sudah datang dari mana-mana. Dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuangan internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengamati Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, Anies mempertanyakan apabila seluruh pihak tersebut dianggap keliru dalam membaca kondisi Indonesia.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan adalah hajat hidup ratusan juta orang,” tegasnya.
Atas berbagai persoalan tersebut, Anies meminta Prabowo dan orang-orangnya memperlakukan situasi yang terjadi secara serius.
Ia mengajak pemerintah tidak menutupi persoalan dengan narasi yang sekadar membuat publik merasa tenang.
“Maka situasi ini harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan. Oleh karena itu saya mengajak kepada pemerintah, berhentilah memberi obat tidur kepada publik,” terangnya.
Ia meminta pemerintah membuka kondisi yang sebenarnya kepada masyarakat.
Baginya, kepemimpinan yang solid dan komunikasi yang terbuka justru dapat memberikan ketenangan bagi pasar sekaligus masyarakat.
“Pimpin secara solid, ajak, dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar, dan itunya akan menenangkan rakyat,” Anies menuturkan.
Tambahnya, saat ini tekanan ekonomi belum sepenuhnya berakhir. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem juga perlu diantisipasi.
“Lalu kepada teman-teman semua, bersiaplah. Suka tidak suka masa-masa berat masih ada di depan kita. Tekanan ekonomi belum (selesai), cuaca ekstrim akan hadir dan menerpa,” Anies menekankan.
Anies juga mengingatkan bahwa situasi global masih penuh ketidakpastian.
“Dan dunia di luar sedang bergolak,” ia mengingatkan.
Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap menjaga optimisme dan tidak kehilangan keyakinan bahwa Indonesia mampu melewati berbagai tantangan tersebut.
Anies tidak lupa mengajak agar masyarakat tetap optimistis, tetapi tidak menutup mata terhadap persoalan yang ada.
“Tentu kita tetap harus optimis bahwa kita akan bisa melewati itu semua. Asal kita berjalan dengan mata terbuka, bukan dengan ilusi yang dibuat-buat,” tandasnya.
Ia meyakini Indonesia tetap memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Namun, menurut Anies, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi.
“Kita pasti bisa, tapi syaratnya satu. Serius. Mari kita serius mengurus bangsa ini,” kuncinya.