DEMOCRAZY.ID – Masalah pada program Makan Gizi Gratis (MBG) yang kian marak di Indonsia ternayta juga dialami negara tetangga, Selandia Baru.
Program makan siang murah untuk siswa di Selandia Baru menjadi sorotan setelah ditemukan benda asing yang belum diketahui jenisnya di dalam sebuah kue brownies yang disajikan.
Meski mendapat kritik pedas dari banyak pihak MBG di Selandia Baru ini tetap mendapat pembelaan dari pihak pemerintah.
Wakil Direktur Jenderal Keamanan Pangan Selandia Baru Vincent Arbuckle mengatakan benda asing dapat masuk ke makanan pada berbagai tahap, mulai dari bahan baku hingga proses produksi, penanganan, dan pengolahan.
Dalam kasus brownie tersebut, benda asing dikategorikan sebagai tidak diketahui jenisnya karena tidak dapat diidentifikasi ketika laporan pertama dibuat.
“Dalam penyelidikan, diketahui bahwa benda asing tersebut kemungkinan, meski belum dapat dipastikan, merupakan bagian dari kemasan bahan yang digunakan selama proses produksi,” kata Arbuckle dikutip dari The New Zealan Herald.
Ia mengatakan produsen telah menerapkan langkah perbaikan untuk memperketat pengendalian benda asing selama proses produksi.
Keamanan Pangan Selandia Baru juga memastikan brownies tersebut berasal dari pemasok eksternal.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Selandia Baru David Seymour menyebut bahwa brownies bermasalah tersebut emungkinan juga dijual di berbagai tempat dan tidak secara khusus dibuat hanya untuk program makan siang sekolah.
“Jelas ini menjadi perhatian. Namun, ini merupakan persoalan keamanan pangan secara umum yang terdampak pada Program Makan Siang Sehat, bukan persoalan yang disebabkan oleh program tersebut,” kata Seymour.
Meski muncul sejumlah laporan keamanan pangan, Seymour menegaskan pemerintah tidak mengabaikan persoalan yang terjadi.
Seymour mengatakan pemerintah terus berupaya menyelesaikan berbagai masalah dalam pelaksanaan program tersebut dan memastikan makanan sekolah tetap tersedia bagi siswa yang membutuhkan.
Program makan siang sekolah Selandia Baru sebelumnya juga pernah menghadapi sejumlah insiden yang menjadi perhatian publik.
Pada 2025, misalnya, otoritas menyelidiki laporan plastik kemasan yang meleleh dan masuk ke makanan.
Ada pula kasus larva ditemukan dalam makanan, meski penyelidikan menyimpulkan larva tersebut sudah mati dan tidak menimbulkan risiko keamanan pangan.
Kasus-kasus tersebut membuat kualitas dan keamanan program makan siang menjadi isu politik sekaligus perhatian sekolah dan orang tua.
Pemerintah sendiri berulang kali menegaskan tujuan utama perubahan program adalah menyediakan makanan sehat dengan biaya lebih rendah bagi pembayar pajak.
Program makan siang murah tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah koalisi Selandia Baru untuk memangkas biaya dibandingkan skema yang diterapkan pemerintahan sebelumnya.
Pemerintah Selandia Baru menyediakan makan siang gratis setiap hari sekolah bagi lebih dari 240.000 siswa melalui program Healthy School Lunches, yang sebelumnya dikenal sebagai Ka Ora, Ka Ako.
Program makan siang sekolah Ka Ora, Ka Ako di Selandia Baru dimulai pada tahun 2020 di masa pemerintahan Perdana Menteri Jacinda Ardern
Program tersebut menyasar siswa yang membutuhkan dukungan terbesar, terutama sekolah dan kura dengan tingkat ketimpangan ekonomi tinggi.
Data Kementerian Pendidikan Selandia Baru per 13 Agustus 2026 mencatat terdapat 1.023 sekolah dengan lebih dari 240.000 siswa yang mengikuti program tersebut.
Ada standar gizi yang harus dipenuhi dalam menu Healthy School Lunches.
Makanan harus berasal dari empat kelompok utama, yakni sayur dan buah, biji-bijian, produk susu, serta makanan sumber protein.
Menu juga harus membatasi kandungan lemak jenuh, garam atau sodium, dan gula tambahan.
Sistem standar gizi program menggunakan kategori warna untuk memastikan makanan yang lebih sehat menjadi komponen utama menu.
Makanan yang masuk kategori green harus mendominasi setiap hidangan.
Sementara makanan kategori amber hanya diperbolehkan dalam jumlah terbatas, sedangkan makanan kategori red tidak boleh dimasukkan ke dalam menu.
Untuk minuman, pilihan yang diperbolehkan juga sangat terbatas.
Program hanya mengizinkan air putih dan susu tanpa rasa sebagai minuman yang disajikan kepada siswa.