DEMOCRAZY.ID – Kumis sebagai salah satu ciri pertumbuhan rambut wajah merupakan salah satu karakteristik fenotipik manusia yang memiliki komponen genetik.
Hal itu dibahas oleh dr. Tifauzia Tyassuma dalam tulisannya berjudul Kumis, Genetika, dan Jejak Biologis Seseorang.
Dia membagikan tulisan itu bersanding dengan foto Jokowi dan Frono Jiwo.
Tifauzia menjelaskan, ada satu hal menarik dalam biologi manusia yang sering dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya melibatkan mekanisme genetika, endokrinologi, dan dermatologi, yaitu pertumbuhan kumis.
“Apakah seseorang yang sejak dewasa memiliki kumis akan cenderung tetap berkumis sepanjang hidupnya? Secara biologis, jawabannya: ya, secara ilmiah demikian adanya,” tulis Dokter Tifa, Minggu (8/11/2026).
Menurutnya, mengapa sebagian laki-laki memiliki kumis yang tebal sejak dewasa, sementara sebagian lainnya memiliki kumis tipis atau bahkan hampir tidak tumbuh, bukan sekadar persoalan kebiasaan mencukur atau membiarkannya tumbuh.
“Ada faktor genetik, hormon androgen, reseptor androgen, dan karakteristik folikel rambut yang menentukan pola pertumbuhan rambut wajah seseorang,” jelasnya.
Dokter Tifa merujuk penelitian Adhikari dkk (2016) yang menemukan sejumlah lokus genetik yang berhubungan dengan karakteristik rambut wajah dan rambut kepala.
Beberapa gen yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah EDAR, LNX1, PREP, dan FOXP2.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa karakteristik rambut wajah bukan semata-mata hasil kebiasaan seseorang, melainkan memiliki komponen genetik,” kata Tifauzia.
Ia juga merujuk kajian Randall (2008) dalam Androgens and Hair Growth, yang menjelaskan bagaimana androgen memicu perubahan rambut halus menjadi rambut terminal yang lebih tebal dan gelap.
“Artinya, karakteristik biologis pertumbuhan kumis memiliki dasar genetik dan hormonal yang dapat menetap dalam perjalanan hidup seseorang,” ujarnya.
Tifauzia menegaskan, secara biologis ada kecenderungan bahwa karakteristik pertumbuhan rambut wajah termasuk kumis yang telah berkembang sejak pubertas dan dewasa akan tetap menjadi bagian dari fenotipe seseorang.
Sebagai contoh, ia menyebut Frono Jiwo, alumni Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, sejak 46 tahun yang lalu sampai sekarang tetap berkumis tebal.
Hal sebaliknya yang sangat janggal tampak pada foto rekan sebelahnya.
“Yang melihat foto dirinya tak ragu bahwa ini adalah orang yang sama. Selain tentu juga kacamatanya. Sedang orang di sebelahnya, silakan anda pikirkan sendiri,” tutup Dokter Tifa.
KUMIS, GENETIKA, DAN JEJAK BIOLOGIS SESEORANG
Oleh: dr Tifauzia TyassumaApakah seseorang yang sejak dewasa memiliki kumis akan cenderung tetap berkumis sepanjang hidupnya? Secara biologis, jawabannya: ya, secara ilmiah demikian adanya.
Ada satu hal menarik dalam biologi manusia yang sering dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya melibatkan mekanisme genetika, endokrinologi, dan dermatologi, yaitu ertumbuhan kumis.
Mengapa sebagian laki-laki memiliki kumis yang tebal sejak dewasa, sementara sebagian lainnya memiliki kumis tipis atau bahkan hampir tidak tumbuh?
Pertumbuhan kumis bukan sekadar persoalan kebiasaan mencukur atau membiarkannya tumbuh. Ada faktor genetik, hormon androgen, reseptor androgen, dan karakteristik folikel rambut yang menentukan pola pertumbuhan rambut wajah seseorang.
Baca JugaPenelitian yang dilakukan Adhikari dkk (2016) menemukan sejumlah lokus genetik yang berhubungan dengan karakteristik rambut wajah dan rambut kepala.
Beberapa gen yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah EDAR, LNX1, PREP, dan FOXP2.Temuan ini memperlihatkan bahwa karakteristik rambut wajah bukan semata-mata hasil kebiasaan seseorang, melainkan memiliki komponen genetik.
Randall (2008), dalam kajian *Androgens and Hair Growth*, juga menjelaskan bagaimana androgen memicu perubahan rambut halus menjadi rambut terminal yang lebih tebal dan gelap.
Artinya, karakteristik biologis pertumbuhan kumis memiliki dasar genetik dan hormonal yang dapat menetap dalam perjalanan hidup seseorang.
Baca JugaArtunya, kumis sebagai salah satu ciri pertumbuhan rambut wajah merupakan salah satu karakteristik fenotipik manusia yang memiliki komponen genetik.
Apakah seseorang yang berkumis akan cenderung berkumis sepanjang hidupnya?Secara biologis, ada kecenderungan bahwa karakteristik pertumbuhan rambut wajah termasuk kumis yang telah berkembang sejak pubertas dan dewasa akan tetap menjadi bagian dari fenotipe seseorang.
Frono Jiwo, alumni Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, sejak 46 tahun yang lalu sampai sekarang tetap berkumis tebal. Yang melihat foto dirinya tak ragu bahwa ini adalah orang yang sama. Selain tentu juga kacamatanya.
Sedang orang di sebelahnya, silakan anda pikirkan sendiri.
Referensi:
1. Inui S, Itami S. (2013). *Androgen Actions on the Human Hair Follicle: Perspectives*. Experimental Dermatology.
2. Randall VA. (2008). *Androgens and Hair Growth*. Dermatologic Therapy.
3. Adhikari K, et al. (2016). *A Genome-wide Association Scan in Admixed Latin Americans Identifies Loci Influencing Facial and Scalp Hair Features*. Nature Communications.— Dokter Tifa (@DokterTifa) November 8, 2026