DEMOCRAZY.ID – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie mengungkap dinamika politik menjelang Pilpres 2024.
Menurut Jimly, Gibran Rakabuming Raka bukan sosok yang sejak awal berada dalam pertimbangan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi calon wakil presiden Prabowo Subianto.
Jimly mengatakan, peta politik menjelang Pilpres 2024 terus berubah seperti permainan catur.
Menurut dia, Jokowi pada awalnya justru memikirkan nama lain untuk mendampingi Prabowo.
“Yang dia pikir itu Ganjar jadi wakilnya Prabowo, kan gitu. Dia dia blusukan ke sawah. Menteri pertahanan Republik Indonesia diajak presiden ke sawah. Di Jawa Tengah bersama Gubernur,” kata Jimly dalam keterangannya, dikutip Sabtu (3/10/2026).
Pada saat itu, Gibran disebut belum dapat maju sebagai calon wakil presiden karena persoalan batas usia.
Situasi kemudian berubah setelah MK mengeluarkan putusan yang mengubah ketentuan usia minimal calon presiden dan wakil presiden.
” Nah, Gibran ditanya, wah saya belum cukup umur. Benar itu. Tapi coba kenapa ada inisiatif dari misal-misalnya PSI atau kelompok-kelompok ini?” ujar Jimly.
Jimly kemudian mempertanyakan munculnya dukungan terhadap Gibran.
Ia mengaitkan dinamika tersebut dengan budaya politik dan faktor kekuasaan, tetapi menilai persoalan itu tidak semestinya hanya diarahkan kepada Gibran.
“Kalau begitu ya kenapa kita marah sama dia? Kenapa nggak marah sama dia? Itu. Jadi, ini cuma permainan,” imbuhnya.
Menurut Jimly, sebelum Gibran masuk dalam bursa cawapres Prabowo, sejumlah nama lain juga sempat diperhitungkan.
Ia menyebut Erick Thohir, Khofifah Indar Parawansa, Airlangga Hartarto hingga Muhaimin Iskandar dalam dinamika pencarian pasangan Prabowo.
“Begitu juga Prabowo ini. Kalau kita lihat-lihat dari luar dia, itu kan menurut survei yang paling tinggi itu Erick untuk calon bakal cawapres. Erick paling tinggi. Iya, Gibran enggak ada jauh. Ya. Nomor satu Erick, nomor dua itu Khofifah. Ya. dan seterusnya,” ungkap Jimly.
Selain nama kandidat, Jimly menyebut peta suara di Pulau Jawa turut menjadi pertimbangan dalam dinamika politik tersebut.
Menurutnya, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi wilayah yang diperhitungkan dalam kalkulasi politik menuju Pilpres 2024.
“Di kepala Prabowo itu kira-kira bagaimana ini menggarap karena 01 03 ini punya afiliasi NU semua di Jawa Timur itu. Dia menganggap Jawa Barat ini insyaallah menang dah. Tapi Jawa Timur itu Jawa Tengah itu 03, Jawa Timur jadi kunci,” terangnya.
Perubahan ketentuan usia capres-cawapres kemudian membuka ruang bagi Gibran untuk masuk dalam perhitungan.
Jimly mengatakan keputusan tersebut membuat Prabowo mempertimbangkan Gibran sebagai pasangan.
“Prabowo jadi pusing dia. Begitu ada keputusan bahwa apa namanya umur boleh di bawah 40. Nah, dia berpikir-pikir, boleh juga ini. Begitu dia ngomong tentang Gibran, semua partai itu setuju semua. Bahkan Golkar lebih duluan mengusulkan,” ucap Jimly.
Jimly menilai dukungan terhadap Gibran juga berkaitan dengan posisi Jokowi dan partai-partai yang saat itu berada dalam koalisi pemerintahan.
“Sekali lagi karena budaya. Karena faktor Jokowi. Mereka ini kan di dalam koalisi pemerintahan Jokowi,” tambahnya.
Pada akhirnya, Jimly melihat pencalonan Gibran sebagai bagian dari dinamika dan permainan politik.
Menurut dia, keputusan akhir mengenai pilihan politik tetap berada di tangan masyarakat sebagai pemilih.
“Jadi mau nyalahin siapa? Ini kan hanya permainan politik, aktor kekuasaan itu lho. Ya sudah serahkan kepada hakim tertinggi ialah rakyat di TPS, lah ternyata menang pula nih,” imbuhnya.