DEMOCRAZY.ID — Respons pedas kembali dilayangkan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi sekaligus mantan Menko Polhukam, Prof.
Mahfud MD, menanggapi pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang sempat menyebut “banyak pakar yang saking pintarnya jadi goblok” saat berpidato di perayaan HUT PAN.
Dalam siniar Terus Terang di kanal YouTube pribadinya yang tayang pada Senin (21/9/2026), Mahfud mengakui bahwa dalam realitas akademis memang ada sebagian kecil kaum terpelajar yang kualitasnya berada di bawah standar.
Kendati demikian, ia menegaskan hal tersebut tidak bisa disamaratakan atau digeneralisasi ke seluruh kalangan guru besar.
“Ada profesor di bawah standar yang oleh Pak Prabowo itu disebut goblok, itu ya pasti ada. Tetapi tentu tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok,” kata Mahfud.
Bahkan, dengan gaya khasnya, Mahfud melontarkan perbandingan historis dengan menyinggung mantan Presiden Uganda, Idi Amin, untuk mengilustrasikan bahwa jabatan tertinggi di eksekutif tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan mutlak.
Tidak hanya menyoroti diksi kasar sang presiden, Mahfud juga menyasar narasi berlebihan yang kerap diembuskan oleh para pendukung fanatik Prabowo.
Ia menilai klaim yang menyebut Prabowo membaca hingga 50 buku dalam sehari merupakan pernyataan yang tidak masuk akal dan justru mencederai logika publik.
“Masa ada orang baca 50 buku sehari? Kan saking gobloknya itu. Mungkin lima lembar aja belum tentu,” ujarnya tajam.
Secara et“, Mahfud menilai pelabelan kata “goblok” kepada para akademisi dan pengamat sangat tidak layak keluar dari lisan seorang kepala negara.
Sebagai pemimpin tertinggi, Prabowo seharusnya mampu merangkum kritik sebagai bahan evaluasi yang sehat, alih-alih melontarkan ejekan terbuka di ruang publik untuk membalas pihak yang mengkritik kebijakannya.
“Tidak layak mengatakan profesor-profesor itu goblok. Enggak layak menurut saya. Enggak layaknya karena, sebagai seorang presiden, harusnya jangan mengejek orang yang mengeritik,” tegasnya.
Di akhir pandangannya, Mahfud mengajak seluruh elemen masyarakat dan kaum intelektual untuk tidak ciut nyali ataupun takut bersuara kritis demi mengawal jalannya republik ini.
“Bagi yang takut mengkritik, silakan berhenti saja. Kalau kita tidak berhenti. Kalau salah-salah, pakai akal sehatlah. Ini negara milik kita, bukan milik orang perseorangan,” pungkas Mahfud.