PDIP Sindir Pedas: Kunjungan Jokowi ke NTT Cuma Buat Pencitraan Demi Kabur dari Sidang Ijazah Palsu!

DEMOCRAZY.IDSafari politik mantan Presiden Joko Widodo kembali menuai polemik terbuka di tengah memanasnya suhu politik nasional.

Langkah Jokowi yang menyambangi langsung para penyintas gempa bumi di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan memilih bermalam di tenda pengungsian, justru disambut dengan kecaman pedas dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Dalam kunjungannya yang berlangsung di tengah warga, Jokowi sempat mendengarkan berbagai keluhan mendesak terkait minimnya akses air bersih.

Menanggapi curhatan para pengungsi, suami Iriana itu sempat melontarkan pernyataan bernada pasrah ihwal statusnya saat ini.

“Saya enggak bisa apa-apa, saya pensiunan,” ucap Jokowi di hadapan warga setempat, meski ia tetap berjanji akan berupaya menyalurkan bantuan sesuai kapasitas pribadinya.

Tudingan Miring PDIP: Agenda Pencitraan hingga Pengalihan Isu

Alih-alih dilihat sebagai bentuk empati kemanusiaan murni, langkah blusukan mantan Kepala Negara tersebut langsung disikapi dengan skeptisisme tinggi oleh kubu banteng.

Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, secara terbuka melayangkan kritik tajam dan mempertanyakan urgensi kunjungan yang baru direalisasikan sebulan pascabencana gempa melanda.

Guntur menuding keberadaan Jokowi di lokasi pengungsian tidak lebih dari sekadar panggung pencitraan kosong dan taktik politik untuk mengalihkan perhatian publik dari berbagai tekanan hukum yang tengah mendera lingkaran mereka, termasuk isu sidang gugatan ijazah.

“Terus ke situ mau ngapain, setelah 1 bulan gempa? Buat percitraan dan foto-foto doang? Buat kabur dari isu pengadilan ijazah palsu dan tidak ada ijazah Gibran?” kritik Guntur tajam menanggapi aksi turun ke bawah sang mantan presiden.

Polemik ini semakin memperkeruh relasi antara kubu pendukung rezim sebelumnya dan poros oposisi yang terus menguliti berbagai kejanggalan di tengah transisi kekuasaan, menjadikan setiap gerak-gerik di akar rumput sebagai medan pertempuran narasi politik yang tak berkesudahan.

Artikel terkait lainnya