Cendikiawan NU Gus Hilmi Sorot Pemecatan Purbaya: Yang Jujur Disingkirkan, Para Bandit Dipertahankan!

DEMOCRAZY.ID – Pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan masih menjadi perbincangan publik.

Teranyar, Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, bicara mengenai pola yang menurutnya terlihat dalam pengisian jabatan di pemerintahan.

Ia membandingkan sejumlah figur yang betul-betul bekerja dan memiliki kapasitas dengan mereka yang tetap mendapatkan posisi strategis.

Sesalkan Pemberhentian Purbaya

Purbaya Yudhi Sadewa resmi tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya pada 14 September 2026.

Purbaya sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak September 2025.

Usai pergantian tersebut, Purbaya mengatakan tidak ada masalah gesekan dalam proses pergantian dirinya.

Gus Hilmi menjadi salah satu pihak yang menyampaikan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto atas keputusan tersebut.

Ia menyebut orang yang benar-benar bekerja justru disingkirkan, sementara pihak yang dinilainya tidak memiliki kinerja tetap dipertahankan.

“Yang beneran kerja dipecat, yang ga becus kerja malah dirawat,” ujar Gus Hilmi, dikutip fajar.co.id, Jumat (18/9/2026).

Bandingkan Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka

Tidak hanya Purbaya, Gus Hilmi juga membandingkan perlakuan terhadap Anies Baswedan dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Yang cerdas (Anies, red) dicaci maki, yang kosong (Gibran, red) malah diberi kursi,” tukasnya.

Selesai pada Anies dan Gibran, Gus Hilmi kemudian kembali mengaitkan kritiknya dengan Purbaya.

Ia menyebut pemberhentian mantan Menkeu tersebut sebagai bentuk disingkirkannya sosok yang memiliki integritas.

“Yang jujur (Purbaya, red) disingkirkan, para bandit dipertahankan,” tegasnya.

Fenomena ‘Penjilat’ di Lingkaran Istana

Lebih jauh, Gus Hilmi juga menyentil fenomena ‘penjilat’ demi jabatan di lingkaran istana.

Gus Hilmi berujar, orang yang bersuara justru berisiko kehilangan posisi, sedangkan mereka yang dianggapnya hanya memberikan dukungan kepada penguasa justru memperoleh jabatan.

“Yang bersuara dilengserkan, para penjilat malah dikasih jabatan,” sesalnya.

Artikel terkait lainnya