Kebohongan Polda DIY Terbongkar! SEMA UGM Ungkap Fakta Sebenarnya: Tim Medis Bawa Mylanta, Bukan Bubuk Merica

DEMOCRAZY.IDPolda DIY Dituding Sebar Disinformasi Soal Semprotan Merica Saat Aksi, SEMA UGM Desak Minta Maaf dan Copot Framing Murahan

Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) merespons unggahan kepolisian di sosial media yang menyebut adanya penggunaan cairan diduga merica atau spicy spray dalam kerumunan massa saat aksi unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Selasa (1/9/2026) kemarin.

Adapun video itu bertajuk ‘Fakta Lapangan’ yang diunggah melalui akun instagram resmi Polda DIY @poldajogja.

Di sana narasi yang disampaikan menuding bahwa tabung berwarna oranye milik tim medis mahasiswa sebagai semprotan merica.

Padahal tabung itu berisi cairan Mylanta yang dilarutkan untuk membantu membilas mata dan wajah korban jika kemudian terpapar gas air mata.

“Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika institusi keamanan negara gagal membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh,” kata Mesa Syafitra, Ketua Umum SEMA UGM saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2026).

Mesa menjelaskan bahwa secara prosedur medis lapangan, penggunaan pertolongan berbasis larutan antasida seperti Mylanta sudah menjadi standar global untuk menetralkan efek paparan gas air mata pada mata dan wajah korban.

“Secara ilmiah dan pada praktiknya di seluruh dunia, cairan antasida seperti Mylanta yang dilarutkan air adalah protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata. Sifat basanya membantu menetralkan efek asam korosif dari senyawa kimia gas air mata,” paparnya.

Mesa yang saat itu berada langsung di lokasi aksi bahkan mengaku terkena semprotan merica oleh seorang oknum yang tak diketahui dari mana asal-usulnya.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Humas Polda DIY (@poldajogja)

Beruntung tim medis kemudian sigap memberikan pertolongan kepadanya dengan menyemprotkan cairan Mylanta itu.

Ia menduga, tindakan memutarbalikkan fungsi obat maag menjadi senjata kimia bukan sekadar ketidaktahuan teknis.

Melainkan ada niat buruk untuk membenarkan tindakan kekerasan polisi di lapangan terhadap demonstran.

“Menuduh obat maag sebagai semprotan merica adalah bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan kemanusiaan, atau yang lebih buruk adalah upaya menjustifikasi tindakan represif di lapangan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, SEMA UGM menyoroti bahaya dari pembingkaian opini (framing) yang diproduksi oleh akun bercentang biru milik Polda DIY.

Narasi keliru tersebut dinilai sangat berpotensi memicu stigma negatif dari publik terhadap tim medis mahasiswa yang sejatinya menjalankan aksi kemanusiaan.

“Ini adalah bentuk pembingkaian opini (framing) yang berbahaya,” tegasnya.

Informasi yang disampaikan institusi kepolisian, kata dia, semestinya melewati proses verifikasi yang kuat sebelum dipublikasikan dan dikonsumsi masyarakat luas.

Mesa turut menyentil fenomena penegakan hukum yang dinilai tebang pilih.

Ketika warga negara kritis acap kali dijerat dengan Pasal UU ITE dan tuduhan berita bohong, aparat penegak hukum justru secara terang-terangan memproduksi disinformasi tanpa verifikasi empiris.

“Rakyat muak dengan UU ITE dan aturan penyebaran berita bohong kerap digunakan untuk menjerat warga negara yang kritis. Namun, hari ini kita menyaksikan institusi penegak hukum itu sendiri yang mengunggah konten tanpa melalui proses verifikasi data empiris yang objektif,” cetusnya.

Atas kegaduhan disinformasi ini, SEMA UGM menegaskan posisi mereka yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan menuntut Polda DIY bertindak kooperatif serta bertanggung jawab secara hukum.

“SEMA UGM menuntut Polda DIY tidak hanya meralat klaim tersebut, tetapi juga meminta maaf secara terbuka kepada publik demi menjaga marwah kredibilitas kepolisian itu sendiri,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya