DEMOCRAZY.ID – Wacana duet Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendapat penolakan dari Geisz Khalifah, kolega dekat Anies.
Geisz menilai Anies terlalu memiliki rekam jejak dan prinsip yang bersih untuk disandingkan dengan Gibran.
Ia bahkan menganggap wacana tersebut tidak masuk akal jika dilihat dari nilai politik yang selama ini diperjuangkan Anies dan para pendukungnya.
Mantan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol itu mengatakan Anies merupakan figur intelektual yang selama ini dikenal membawa gagasan dan nilai dalam politik.
Karena itu, menurut dia, memasangkan Anies dengan Gibran akan menimbulkan persoalan prinsipil.
“Semua orang cocok sama Anies kecuali Gibran. Buat saya gak cocok aja gitu, Anies intelektual bersih terus didampingi sama anak haram konstitusi,” kata Geisz dalam tayangan video yang diunggah kembali melalui akun Facebook miliknya, dikutip Kamis (20/8/2026).
Pernyataan Geisz tidak terlepas dari kontroversi perubahan ketentuan batas usia calon presiden dan wakil presiden yang diputus Mahkamah Konstitusi (MK) menjelang Pilpres 2024.
Putusan tersebut membuka jalan bagi Gibran yang ketika itu belum memenuhi batas usia minimal untuk maju sebagai calon wakil presiden.
Gibran kemudian berpasangan dengan Prabowo Subianto dan memenangkan Pilpres 2024.
Bagi Geisz, persoalan tersebut bukan sekadar kalkulasi politik.
Ia menilai ada prinsip etik dan konstitusional yang harus tetap dipertahankan, sekalipun sebuah keputusan politik berpotensi memberikan keuntungan elektoral.
Menurut dia, Anies tidak semestinya mengabaikan prinsip tersebut hanya demi meningkatkan peluang kemenangan dalam Pilpres 2029.
“Itu sama aja kita merusak diri kita sendiri. Menutup mata untuk sebuah ketidakbenaran demi kekuasaan,” ujar Geisz.
Geisz mengatakan alasan dirinya mendukung Anies selama ini bukan karena kepentingan materi ataupun keuntungan politik pribadi.
Ia mengaku memilih berada di belakang Anies karena memiliki kesamaan pandangan mengenai arah politik dan gagasan yang diperjuangkan.
“Kan kita dukung Anies itu dengan, apa, kalau bahasa hiperbolanya segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga,” katanya.
Karena itu, Geisz menilai dukungan politik seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis terhadap figur yang didukungnya.
Menurut dia, loyalitas kepada Anies bukan berarti menerima semua keputusan tanpa pertimbangan.
Geisz juga mengakui bahwa politik tidak bisa sepenuhnya berjalan tanpa kompromi. Dalam praktiknya, kata dia, konflik dan konsensus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari politik.
Namun, kompromi tersebut menurut dia memiliki batas.
Hal-hal yang menyangkut prinsip, terutama persoalan etik, tidak seharusnya dikorbankan demi kepentingan kekuasaan.
“Politik adalah konflik dan konsensius, kita harus lihat komprominya, konsensiusnya. It’s okay dalam hal-hal yang tidak prinsipil. Kalau sudah masalah etik, dia melanggar yang dikatakan sendiri,” tuturnya.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa Geisz memandang kemungkinan koalisi atau duet politik tidak cukup hanya dihitung berdasarkan peluang menang.
Bagi dia, pilihan politik juga harus konsisten dengan nilai yang sejak awal menjadi alasan seseorang memberikan dukungan.
Geisz kemudian menegaskan bahwa kedekatannya dengan Anies tidak membuat dirinya otomatis membenarkan setiap langkah mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Jika suatu ketika Anies mengambil keputusan yang menurutnya bertentangan dengan nilai perjuangan yang selama ini diyakini, Geisz mengatakan dirinya lebih memilih untuk diam dan mengambil jarak.
Sikap tersebut, kata dia, merupakan konsekuensi dari keterlibatannya dalam politik yang sejak awal bukan untuk mencari keuntungan pribadi.
“Kan kita gak nyari duit di politik. Kita ikut terlibat karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang baik untuk bangsa ini,” pungkasnya.
Wacana duet Anies-Gibran sendiri menjadi salah satu spekulasi yang muncul dalam pembicaraan menuju Pilpres 2029.
Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai pasangan calon yang akan bertarung dalam kontestasi tersebut.
Geisz melalui pernyataannya menempatkan persoalan etik dan prinsip sebagai batas dalam membangun koalisi politik.
Ia menilai kemenangan elektoral tidak semestinya menjadi alasan untuk mengabaikan nilai yang menjadi dasar perjuangan politik.