DEMOCRAZY.ID – Menjelang pidato kenegaraan setiap 16-17 Agustus, Presiden Indonesia biasanya menyiapkan berbagai hal untuk menyampaikan pesan kepada rakyat.
Sejarah mencatat ada Presiden Indonesia yang menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk menulis pidatonya.
Sosok itu adalah Presiden ke-1 RI, Soekarno. Hal ini diungkap langsung oleh putranya, Guntur Soekarnoputra.
Dalam memoar Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku (1977), Guntur bercerita bahwa setiap pertengahan Agustus, ia selalu menyaksikan sang ayah sibuk mempersiapkan pidato kenegaraan.
Seharian penuh, Soekarno berkonsentrasi menyusun pidatonya.
Ia tidak hanya menulis, tetapi juga berdiskusi dengan orang-orang penting.
Mulai dari menteri hingga tokoh masyarakat. Berbagai bahan dikumpulkannya sebagai referensi, dari buku, koran, majalah, hingga berita dari luar negeri.
Guntur bahkan masih mengingat ketika Soekarno memintanya mengambil buku-buku karya tokoh besar dunia.
Salah satunya adalah Declaration of Independence karya Thomas Jefferson.
“Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” kata Soekarno kepada Guntur, dikutip dari memoar Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku (1977).
Permintaan itu membuat Guntur harus bolak-balik mengambil buku yang dibutuhkan ayahnya.
Sementara Soekarno terus fokus menulis pidato dengan dibantu tim khusus yang bekerja hampir tanpa henti.
Keseriusan tersebut bahkan membuat Soekarno sampai lupa makan.
Guntur mengingat salah satu percakapan dengan ayahnya ketika proses penyusunan pidato berlangsung.
“Kau sudah makan,” tanya Bung Karno.
“Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya.
“Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno.
Kesibukan Soekarno dalam menyusun pidato juga disaksikan ajudan pribadinya, Bambang Widjanarko.
Dalam memoarnya, Bambang menggambarkan bagaimana Soekarno bisa berjam-jam berada seorang diri di kamar untuk menuangkan gagasan ke dalam tulisan.
“Saat itulah satu-satunya yang saya lihat BK dapat berjam-jam seorang diri di kamar, berkosentrasi penuh menuangkan yang ada di hati dan otaknya ke dalam tulisan,” kata Bambang dikutip dari Sewindu dekat Bung Karno (1988).
Menurut Bambang, Soekarno memang menulis sendiri pidatonya, meski tetap mendapat bantuan dari tim khusus.
Bagi Soekarno, pidato kenegaraan bukan sekadar teks yang harus dibacakan di hadapan rakyat.
Ia menganggap pidato tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang presiden atas kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya.
Atas dasar itu, proses penyusunannya dilakukan dengan serius. Soekarno juga tidak selalu menulis di satu tempat.
Ia berpindah-pindah dari satu istana ke istana lainnya. Ketika merasa jenuh, ia sesekali keluar ruangan untuk bermain, berbincang, minum kopi, hingga menonton tari-tarian.
Setelah semua bahan terkumpul dan gagasan selesai dituangkan, naskah tersebut diketik oleh sekretaris pribadinya.
Lalu disampaikan lewat pidato hadapan rakyat Indonesia.
Jutaan rakyat pun mendengarkan pidato kenegaraan itu.
Dengan gaya penyampaian yang berapi-api, Soekarno mampu membangkitkan semangat rakyat dan meninggalkan kesan yang masih dikenang hingga sekarang.