DEMOCRAZY.ID — Tingkat popularitas tinggi ternyata tidak serta-merta menjamin perolehan suara di kotak suara.
Pegiat media sosial Mazdjo Pray melontarkan analisis tajam terkait jebloknya elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang tidak sejalan dengan masifnya kerja-kerja politik di lapangan.
Menurut Mazdjo, mandeknya elektabilitas partai besutan Kaesang Pangarep tersebut bukan lagi persoalan kurangnya eksposur atau minimnya promosi.
Terlebih, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) telah pontang-panting turun gunung melakukan safari politik ke berbagai daerah untuk mendongkrak suara partai.
Ia lantas menyoroti data riset terbaru dari lembaga survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang merekam anomali mencolok: tingkat pengenalan publik (awareness) terhadap PSI sudah menyentuh angka 70,2 persen, namun tingkat keterpilihannya (electability) hanya tersendat di angka 1,9 persen saja.
“Tapi cuman PSI dan juga Jokowi ya. Enggak dipercaya atau belum dipercaya, karena kurang apa kan gitu. Kalau orang lihat Jokowi kan sudah pernah lihat cara dia memutuskan masalah, sudah lihat jejak dia cara mengatur negara, sudah lihat bagaimana perlakuan dia terhadap anak-anaknya, keistimewaan dan lain-lain,” ujar Mazdjo dalam kanal YouTube YouthTV Indonesia, dikutip Senin (10/8/2026).
Mazdjo menegaskan, masyarakat saat ini sudah jauh lebih cerdas dan kritis dalam menilai rekam jejak tokoh politik secara menyeluruh.
Pengalaman publik melihat cara Jokowi mengelola negara, manuver dinasti politik terhadap anak-anaknya, hingga pola relasi sang mantan presiden dengan para sahabat dan senior yang pernah membantunya di masa lalu, kini telah menjadi catatan tersendiri di benak rakyat.
Semua rekam jejak tersebut membentuk persepsi kolektif yang membuat publik enggan melabuhkan pilihannya.
“Sudah orang sudah lihat bagaimana cara Jokowi memperlakukan sahabat-sahabatnya, senior-senior, orang yang membantu dia itu. Orang sudah tahu itu semua,” imbuhnya.
Berdasarkan fakta empiris tersebut, kunci utama yang hilang dan paling dibutuhkan untuk mengonversi tingginya angka pengenalan menjadi dukungan nyata di bilik suara bukanlah sekadar popularitas, melainkan faktor kepercayaan (trust)—sebuah elemen krusial yang dinilai belum berhasil direbut oleh PSI maupun lingkaran politik di sekitarnya.
[VIDEO]