

DEMOCRAZY.ID – Nama Prof. Dian Damayanti menjadi sorotan publik setelah paper yang mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk Nobel Perdamaian 2026 ramai diperbincangkan di media sosial. Bersamaan dengan itu, klaim gelar profesor dan doktornya juga dipertanyakan.
Dian merupakan salah satu penulis paper yang membahas program MBG sebagai model kebijakan yang dinilai layak mendapat perhatian dunia.
Paper tersebut berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency: Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth.
Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, Dian memperkenalkan diri sebagai akademisi, peneliti, penulis, editor, dan reviewer jurnal internasional.
Ia juga mengaku aktif menjadi pembicara dalam berbagai konferensi ilmiah internasional.
Dian mengklaim menjabat sebagai Head of the Global Division of International Education di Yayasan Ilomata.
Selain itu, ia mencantumkan afiliasi sebagai peneliti di Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI Jakarta.
Dalam profil tersebut, Dian juga mengklaim sebagai Nobel Peace Prize Nominee. Klaim itu dicantumkan bersama sejumlah penghargaan dan pengakuan internasional lainnya.
Masih melalui LinkedIn, Dian mengaku pernah menjadi editor dan reviewer pada sejumlah jurnal serta konferensi internasional, di antaranya European Alliance for Innovation (EAI), World Academy of Science, Engineering and Technology (WASET), serta beberapa forum ilmiah lainnya.
Profil Google Scholar miliknya juga memuat sejumlah karya ilmiah dengan topik administrasi publik, pendidikan, kebijakan publik, teknologi, hingga pembangunan berkelanjutan.
Meski membranding diri sebagai akademisi dan guru besar, gelar akademik Dian dipertanyakan.
Berdasarkan data di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), nama Dian Damayanti masih tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur.
Ia tercatat mulai kuliah pada 7 Oktober 2023. Namun, statusnya saat ini tercantum sebagai nonaktif sejak tahun ajaran 2025/2026.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan keabsahan penggunaan gelar profesor dan doktor.
Pegiat media sosial Imade Djibril menilai paper yang mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto dan Dian Damayanti sebagai penulis itu juga bukan merupakan bukti adanya nominasi resmi dari Komite Nobel.
“Pertanyaan berikutnya justru lebih mendasar: apa dasar penggunaan gelar ‘Prof. Dr.’ oleh Dian Damayanti, yang kami asumsikan sebagai lead author?” tulisnya dalam unggahan di X, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, hingga kini belum ada bukti yang dapat memverifikasi bahwa Dian telah menyandang gelar profesor maupun doktor.
“Data PDDikti yang kami lihat menunjukkan nama yang sama tercatat sebagai mahasiswa doktor Universitas Borobudur dengan status nonaktif, sementara sejumlah materi kampus masih menuliskan gelarnya sebagai S.A.P., M.A.,” tulisnya.
Karena itu, menurutnya, penggunaan gelar tersebut masih layak dipertanyakan.
“Sampai ada ijazah doktor dan SK pengangkatan guru besar yang dapat diverifikasi, gelar tersebut selayaknya diperlakukan sebagai klaim yang belum terbukti,” imbuhnya.
👇👇
Kalau cek IG-nya, kita akan semakin pusing…
Dian Damayanti ini beneran mendaku sebagai Nomination Nobel Peace Prize 2026 di profil dan salah satu postingannya 😭😭😭
Postingannya pun banyak pengulangan antara berbagai karya “buku” yang ditulisnya https://t.co/nnfGVzuPBK pic.twitter.com/WeXwLMYYfb
— M. Ridha Intifadha (@RidhaIntifadha) August 5, 2026
Prof. Dr. Dian Damayanti, salah satu kolaborator akademis dari 24 paper ‘submisi’ u/ Nobel Peace Prize-nya Prabowo punya profil yang panjang dan kedengerannya keren banget, kalau lu ga pusing bacanya?
Tapi….apakah ini semua memang legit dan diakui secara akademis?
This is… pic.twitter.com/CF8eWZCkcS
— Rizki Salminen 💜 (@tilehopper) August 5, 2026
Paper tersebut terdiri atas 69 halaman dengan judul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency: Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth.
Keberadaan paper itu pertama kali ramai diperbincangkan setelah diunggah akun X @TxtdariiUGM.
“Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026,” tulis akun tersebut, dikutip Rabu (5/8/2026).
Unggahan itu menyoroti sejumlah hal dalam paper, salah satunya penggunaan ilustrasi hasil kecerdasan buatan (AI).
“Kesel banget di dalam paper ada desain AI-nya. Mana jelek lagi,” tulis akun tersebut.
Tak hanya itu, akun tersebut juga menyoroti dugaan adanya prompt AI yang belum dihapus dari naskah.
Bahkan, hasil pemeriksaan menggunakan alat pendeteksi AI disebut mencapai 93 persen.
“Anjirrr paper Nobel Perdamaiannya Prabowo ada sisa prompt yang kelupaan dihapus HAHAHA. Pake AI donggg buat papernya,” tulis akun itu.
Paper tersebut memuat sembilan penulis. Prabowo Subianto dicantumkan dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia, sementara penulis lainnya berasal dari sejumlah perguruan tinggi.
Berikut susunan tim penulis sebagaimana tercantum dalam berkas riset di SSRN:
Paper tersebut dapat diakses melalui SSRN pada tautan berikut:
https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=6230300.