Idap Megalomania? Rocky Gerung Bongkar Jokowi Masih Merasa Jadi Presiden di Belakang Layar!

DEMOCRAZY.IDPengamat politik kenamaan Rocky Gerung melempar bedah anatomi yang menohok terkait ambang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang bakal genap pada Oktober 2026 mendatang.

Di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik dan aroma keretakan elite, ia menyoroti bagaimana sang kepala negara kini terperangkap dalam jaring kekuasaan para sekutunya sendiri.

Tiga Poin Kritis Rocky Gerung: Dari “Tawanan Politik” hingga Desakan Bersih-Bersih Kabinet

Dalam ulasannya, Rocky memetakan tiga poin fundamental mengenai arah angin kekuasaan yang kian mengkhawatirkan di paruh pertama masa jabatan rezim saat ini.

1. Usul Pembatalan Perjanjian Politik

Rocky secara terbuka mendesak Presiden Prabowo untuk berani merobek dan membatalkan seluruh perjanjian politik masa lalu yang mengikatnya dengan para elite partai pendukung.

Pasalnya, barisan lingkar dalam kekuasaan dinilai sudah gagal total mengejawantahkan kejujuran pikiran maupun kepekaan terhadap kegelisahan politik yang dirasakan rakyat.

“Artinya, tidak mungkin dua tahun berikutnya masih dia pakai mereka yang tidak paham,” kata Rocky, dikutip dari kanal YouTube Hendri Satrio, Kamis (6/8/2026).

2. Kesan Negatif Kabinet dan Pergeseran Posisi Presiden

Alih-alih memegang kendali penuh sebagai penentu arah kebijakan, Prabowo dinilai telah mengalami pergeseran posisi struktural yang merugikan.

Dari yang semula bertindak sebagai subjek pengambil keputusan, kini ia terseret menjadi objek kompromi politik.

Kapasitas kabinet yang diharapkan tancap gas dalam dua tahun pertama justru melahirkan rapor merah berupa persepsi publik yang kian merosot.

“Negative impression terhadap kabinet itu kan tinggi. Pasti terjadi (pembatalan perjanjian politik),” ujarnya.

3. Desak Prabowo Keluar dari Penjara Oligarki dan Dengar Suara Rakyat

Poin paling krusial yang digarisbawahi adalah bagaimana ruang gerak Istana kini seolah disetubuhi oleh syahwat partai-partai koalisi yang berupaya menyetir Presiden.

Akibatnya, suara-suara kritis yang disuarakan oleh elemen masyarakat sipil—mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), insan pers, hingga akademisi—kerap terbentur tembok tebal para penjilat kekuasaan.

Untuk menyelamatkan sisa masa jabatan dari jurang kehancuran, Prabowo dituntut untuk segera membebaskan diri dan kembali mendengarkan denyut nadi aspirasi publik.

“Prabowo yang awalnya menjadi subjek perjanjian politik itu, sekarang menjadi objek. Dia jadi tawanan,” ucap Rocky tajam.

Artikel terkait lainnya