

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik dan sosial Sutoyo Abadi menyoroti gaya pengambilan keputusan Presiden RI Prabowo Subianto yang dinilainya kerap terkesan terburu-buru dan kurang mempertimbangkan dampak secara matang.
Pandangan tersebut disampaikan Sutoyo dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi pada Senin (3/8/2026).
Ia merujuk pada memoir mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, From Third World to First: The Singapore Story (1965–2000), khususnya bagian yang membahas dinamika politik Indonesia menjelang krisis 1998.
Sutoyo mengutip bagian yang menyebut Prabowo sebagai sosok yang “bright and ambitious, but impetuous and rash” atau “cerdas dan ambisius, namun gegabah dan terburu-buru”.
“Kalimat tersebut sebenarnya adalah laporan Lee tentang bagaimana Soeharto memandang Prabowo saat itu, bukan semata-mata penilaian pribadi Lee,” kata Sutoyo dalam rilisnya.
Ia juga mengutip pernyataan Lee Kuan Yew pada halaman berikutnya, “I said Prabowo had a reckless streak in him”, yang diterjemahkannya sebagai “memiliki sisi nekat dalam dirinya”.
Menurut Sutoyo, catatan sejarah itu dapat dijadikan referensi untuk membaca dinamika kepemimpinan Prabowo saat ini sebagai Presiden RI.
“Terasa sifatnya masih tersisa grusa-grusu dalam mengambil kebijakan tanpa berpikir panjang. Juga impulsif, cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati tanpa pertimbangan matang,” ujarnya.
Sutoyo menilai kecenderungan tersebut tampak dalam sejumlah pidato Presiden yang disampaikan tanpa teks.
Ia menyebut gaya komunikasi yang spontan terkadang memunculkan pernyataan yang dinilai tidak selaras dengan kondisi riil di masyarakat.
“Ketika berpidato tanpa teks sering meloncat-loncat, menghardik rakyat, lupa ucapannya menyakiti rakyat, dan tidak sadar bahwa ucapannya tidak sesuai dengan realitas yang masih membuncah,” katanya.
Ia juga mengkritik proses pengambilan kebijakan yang menurutnya kerap dilakukan dengan data yang belum tertata baik dan berpotensi menimbulkan dampak luas bagi masyarakat.
Dalam rilisnya, Sutoyo menegaskan bahwa kutipan Lee Kuan Yew tersebut tidak dapat dipahami sebagai penilaian tunggal terhadap seluruh perjalanan karier Prabowo Subianto.
Ia menyebut frasa tersebut merupakan karakterisasi dalam konteks politik Indonesia pada akhir masa Orde Baru.
Lee Kuan Yew dalam memoirnya membahas keputusan Presiden Soeharto yang menunjuk Jenderal Wiranto sebagai Panglima ABRI sekaligus mempromosikan Prabowo sebagai Panglima Kostrad, yang menurut Lee berpotensi menciptakan persaingan di pucuk militer pada saat negara membutuhkan stabilitas.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum memperoleh tanggapan resmi dari Presiden Prabowo Subianto maupun pihak Istana Kepresidenan terkait pandangan dan kritik yang disampaikan Sutoyo Abadi.
Redaksi memberi ruang hak jawab dan klarifikasi tetap terbuka bagi Presiden Prabowo Subianto, Sekretariat Presiden, maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini.