

DEMOCRAZY.ID – Indikator Politik Indonesia memberikan klarifikasi atas beredarnya informasi yang mengatasnamakan hasil survei nasional Juli 2026.
Melalui pernyataan resmi yang diterbitkan pada 28 Juli 2026, lembaga survei tersebut menegaskan tidak pernah merilis ataupun mempublikasikan hasil survei nasional pada periode tersebut.
Penegasan itu disampaikan untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar di media sosial maupun platform digital yang mencantumkan nama Indikator Politik Indonesia sebagai sumber survei.
Dalam dokumen bertajuk “Pernyataan Indikator tentang Survei Juli 2026”, Indikator Politik Indonesia menyampaikan dua poin penting terkait isu tersebut.
Pertama, lembaga tersebut memastikan tidak pernah mengumumkan hasil survei nasional yang disebut-sebut dilakukan pada Juli 2026.
“Indikator Politik Indonesia tidak pernah me-rilis atau mempublikasikan hasil survei nasional yang dilakukan pada Juli 2026 tersebut.”
Kedua, Indikator menegaskan seluruh hasil survei resmi selalu dipublikasikan melalui kanal resmi milik lembaga, baik situs web maupun media sosial.
“Data dan temuan survei INDIKATOR secara resmi selalu dipublikasikan melalui web/portal resmi www.indikator.co.id; dan jaringan media sosial Indikator Politik Indonesia.”
Pernyataan tersebut ditutup dengan imbauan kepada masyarakat agar merujuk pada sumber resmi ketika memperoleh informasi yang mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia.
“Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.”
Klarifikasi tersebut ditandatangani Direktur Indikator Politik Indonesia, Fauny Hidayat, di Jakarta pada 28 Juli 2026.
Dengan adanya penegasan ini, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati terhadap informasi yang beredar di ruang digital, terutama yang mengklaim berasal dari hasil survei lembaga tertentu tanpa disertai publikasi melalui kanal resmi.
Sejumlah media besar bahkan telah menerbitkan hasil survei yang tidak diakui oleh Indikator Politik Indonesia. Survei itu disebut dilakukan pada 14 – 24 Juli 2026.
Hasil survei itu menyebutkan bahwa dalam pertanyaan terbuka atau top of mind Dedi Mulyadi memperoleh 22,4 persen, unggul sedikit dari Prabowo yang meraih 20,1 persen.
Sementara Anies berada di posisi ketiga dengan raihan 9,7 persen, disusul Gibran 4,2 persen, dan AHY 3,8 persen.
Sebanyak 25,8 persen responden tidak menjawab atau merahasiakan pilihan mereka.
Dalam simulasi semi terbuka dengan 32 nama, jarak elektabilitas Dedi dan Prabowo juga sudah melebar.
Dedi 31,4 persen, Prabowo 18,8 persen Anies 11,6 persen, Gibran 5,9 persen, AHY 5,8 persen, Ganjar 4,5 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, dan Mahfud 2,5 persen.