DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto punya jawaban tersendiri ketika berbicara soal ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap hingga berbagai bencana yang terus menghantui Indonesia.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
“Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api (the ring of fire), jadi ini membawa kita untuk kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat,” ujar Prabowo saat memimpin rapat terbatas penanganan bencana melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).
Meski menyebutnya sebagai “takdir”, Prabowo tidak ingin pemerintah hanya pasrah menghadapi ancaman bencana.
Justru sebaliknya, ia meminta kesiapsiagaan diperkuat, termasuk dengan menambah anggaran mitigasi secara signifikan.
“Berarti mungkin pelajaran juga bagi kita, bagi pemerintahan yang saya pimpin, alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan,” tegasnya.
Prabowo menilai berbagai bencana yang terjadi harus menjadi bahan evaluasi agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat sebelum situasi memburuk.
Ia juga mengakui respons terhadap karhutla sejauh ini sudah dilakukan secara masif, meski masih ada keterlambatan dalam langkah antisipasi.
“Saya lihat, reaksi terhadap kebakaran hutan kita juga cukup masif, walaupun di sana-sini mungkin ada keterlambatan, tapi itu kita catat untuk selanjutnya kita mengambil langkah-langkah yang antisipatif,” katanya.
Karena itu, Prabowo meminta pola pikir pemerintah dalam menghadapi bencana ikut berubah.
Ia ingin pemerintah tidak lagi menunggu bencana terjadi baru kemudian sibuk menyiapkan peralatan.
Prabowo bahkan meminta jajaran pemerintah menggunakan prinsip “lebih baik lebih daripada kurang” dalam perencanaan mitigasi.
“Berarti lebih banyak helikopter lebih baik. Lebih banyak pompa air, lebih baik. Lebih banyak pemadam kebakaran, lebih baik. Jadi kita siap sebelum kejadian,” tegasnya.
Bukan hanya helikopter dan pompa air, Prabowo juga meminta ketersediaan ekskavator diperkuat, terutama di desa-desa yang secara historis kerap terdampak kebakaran hutan.
Ia juga meminta pemerintah menyiapkan master plan mitigasi yang lebih menyeluruh.
Dalam rencana tersebut, pemerintah antara lain akan memperkuat kemampuan operasi helikopter dan drone untuk membantu penanganan kebakaran.
Prabowo juga menyebut rencana pemanfaatan kapal induk dari Italia yang akan dimodifikasi untuk mendukung operasi helikopter dan drone.
Selain itu, pemerintah diminta menyiapkan pesawat untuk modifikasi cuaca serta mengembangkan drone yang dapat membawa dan menjatuhkan air ke titik kebakaran.
Di sisi lain, Prabowo mengapresiasi respons pemerintah dalam menangani sejumlah bencana di Sumatera, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurutnya, penanganan di wilayah tersebut menunjukkan respons yang lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang pun, dibandingkan dengan tahun-tahun yang dulu, respons kita sangat cepat. Keadaan bencana di Sumatra, di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, ternyata respons kita cukup masif, cukup cepat,” ujar Prabowo.
Prabowo pun meminta seluruh pengalaman tersebut dijadikan pelajaran.
Baginya, berada di kawasan rawan bencana bukan alasan bagi pemerintah untuk menunggu bencana datang.
Sebaliknya, kesiapan harus sudah dibangun jauh sebelum titik api muncul atau bencana menerjang.
“Jadi kita persiapan mengatasi dan mitigasi itu jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya kita siapkan,” tandas Prabowo.