Fakta Baru Terkuak! Kesaksian Tetangga Bongkar Misteri Dibalik Suasana Pemakaman Sutrimo di Banyumas

DEMOCRAZY.ID – Kematian Sutrimo yang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di depan sebuah klinik di depan klinik kecantikan Mordent kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) masih menyisakan tanda tanya.

Pasalnya seminggu sebelum ditemukan tewas, Sutrimo sempat pulang ke kampung halamannya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.

“Perantauan sudah lama. Itu tapi seminggu sebelum kejadian sempat pulang. Saya lihat pulangnya, tapi tidak lihat berangkatnya lagi. Sekitar seminggu sebelum kejadian,” kata salah satu tetangga Sutrimo yang tidak ingin disebutkan namanya saat ditemui wartawan, Selasa (28/7/2026).

Ia baru mengetahui Sutrimo sudah berangkat kembali ke Jakarta setelah mendengar informasi kematiannya.

Jenazah Sutrimo yang dibawa ambulans disebut tiba di Banyumas sekitar pukul 22.00 WIB.

Jenazah kemudian dimakamkan di pemakaman berjarak 1 kilometer dari rumahnya usai disalatkan.

Hampir semua warga disebut mengikuti proses pemakaman tersebut.

Ia turut ikut ke pemakaman Sutrimo dan baru pulang lewat tengah malam.

“Orang sini tahunya meninggal pada Kamis sekitar pukul 09.00 WIB. Sampai sini (jenazahnya) jam 10 malam langsung dimakamin. Orang sini ya hampir ikut makamin semua. Saya sampai rumah juga jam setengah 1-an,” ujarnya.

Ia mengaku tahu dengan Sutrimo. Namun dirinya tidak mengenal secara personal karena Sutrimo sudah lama merantau.

“Saya kenal tidak kenal (dengan Sutrimo) orangnya jarang di rumah. Tapi tahu, paham. Umurnya sekitar 40 lebih dikit kalau saya 36 tahun,” terangnya.

Sejauh yang ia ketahui, saat pulang Sutrimo jarang bergaul dengan lingkungan sekitar.

Jika pulang, Sutrimo kerap duduk-duduk di teras rumah orang tuanya.

“Setahu saya puluhan tahun merantau, sepertinya ada 20 tahun dari sebelum menikah. Orangnya pendiam, kalau pulang cuma duduk-duduk di depan rumah,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, aparat penegak hukum masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (23/7).

Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui.

Polisi kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di klinik yang berlokasi di Jalan Kramat Pela RT 11 RW 11 Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jaksel.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan menyelidiki kasus ini untuk mengetahui rangkaian peristiwa tersebut sekaligus mengungkap penyebab kematian korban.

Penyelidik mengumpulkan bahan keterangan serta melakukan klarifikasi terhadap pihak keluarga, pengemudi ambulans, petugas rumah sakit, dan pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut.

Polisi juga mengalami rekam medis korban, riwayat pemesanan ambulans, hingga lokasi awal ditemukannya almarhum.

Berdasarkan informasi yang beredar, korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

Korban disebut-sebut merupakan kepala rumah tangga (karumga) mantan Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah.

Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait sosok korban.

“Masih didalami,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Minggu (26/7).

Budi menuturkan pihaknya juga mempersilakan keluarga korban melapor jika merasa ada kejanggalan atas meninggalnya Sutrimo.

“Kita juga memberi ruang kepada keluarga korban yang masih dalam kondisi berduka. Dan kita juga memberikan imbauan apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan terhadap meninggalnya saudara S, ini bisa membuat laporan kepada Polda Metro Jaya,” tuturnya.

Sementara itu, pihak keluarga mengaku ikhlas dengan kematian Sutrimo yang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di depan klinik kecantikan Mordent di Jakarta.

Saat ini pihak keluarga tidak berniat untuk melapor ke polisi.

Perwakilan keluarga yang mengaku bernama Ardi mengatakan orangtua almarhum Sutrimo tidak bisa ditemui karena sedang sakit.

Ardi tinggal berdekatan dengan kedua orang tua Sutrimo.

“Mohon maaf ibu (almarhum Sutrimo) sedang sakit, sekarang kondisinya lagi tenang. Mohon maaf kami tidak bisa menerima (wartawan), keluarga sudah mengikhlaskan,” kata Ardi kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas Selasa (28/7).

Ardi tak banyak bicara saat ditemui wartawan.

Saat disinggung apakah kasus ini akan di laporkan ke Polda Metro Jaya, pihak keluarga mengaku tidak ada rencana.

“Sudah ikhlas lahir batin pokoknya,” terang dia sambil berlalu masuk ke rumahnya.

Artikel terkait lainnya