Hasan Nasbi Bungkam Mulut Pengkritik: Aktivis Jadi Pejabat Bukan Berarti Penjilat!

DEMOCRAZY.ID – Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi menilai aktivis yang kemudian beralih menjadi pejabat publik tidak dapat langsung diberi label sebagai penjilat kekuasaan.

Menurut Hasan, ketika seseorang telah menduduki jabatan dalam pemerintahan, perannya berubah menjadi representasi institusi negara yang harus menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai posisinya.

“Mungkin dulunya dia aktivis, tapi kalau hari ini dia jadi pejabat, dia bukan penjilat. Dia pejabat,” ujar Hasan dalam tayangan yang diunggah akun Instagram @microphone.hasan.nasbi, Jumat (19/6/2026).

Hasan mengatakan, perubahan peran dari aktivis menjadi pejabat merupakan bagian dari dinamika yang lazim terjadi dalam perjalanan politik seseorang.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai sebuah siklus yang juga berpotensi dialami oleh para aktivis yang saat ini berada di luar pemerintahan.

Menurut dia, banyak aktivis yang pada awalnya berada di garis depan mengkritik pemerintah, namun kemudian memilih masuk ke dunia politik praktis dan meniti karier di lembaga legislatif maupun eksekutif.

“Hari ini menentang rezim, mengepalkan tangan dan merasa membawa panji perjuangan, tetapi bukan tidak mungkin suatu saat masuk partai politik, menjadi anggota DPRD, lalu berkembang menjadi pejabat di tingkat nasional,” kata Hasan.

Ia menambahkan, kondisi serupa juga dialami sejumlah tokoh yang saat ini berada di pemerintahan.

Sebagian dari mereka, kata Hasan, memiliki latar belakang sebagai aktivis yang pernah menyuarakan kritik terhadap rezim pada masanya.

Karena itu, Hasan mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan cap negatif kepada seseorang hanya karena memilih masuk ke dalam pemerintahan.

Ia mencontohkan dirinya yang kerap mendapat tudingan sebagai penjilat rezim setelah dipercaya menduduki jabatan publik.

Namun, menurut Hasan, tugas yang dijalankannya saat ini merupakan amanah sebagai pejabat negara.

“Bukan karena menjilat, tetapi karena diminta menjalankan tugas sebagai pejabat negara,” ujarnya.

Hasan juga menyebut sejumlah nama yang dinilai mengalami proses serupa, seperti Nusron Wahid, Budiman Sudjatmiko, dan Fahri Hamzah.

Di akhir pernyataannya, Hasan mengajak publik untuk lebih bijak dalam memberikan penilaian terhadap perjalanan politik seseorang.

Sebab, menurut dia, posisi yang saat ini dikritik bisa saja menjadi posisi yang akan ditempati oleh para pengkritik di masa mendatang.

“Jangan terlalu mudah melabeli orang. Bisa jadi suatu saat Anda juga berada di posisi yang sama. Itu adalah siklus yang mungkin belum dialami sekarang, tetapi sangat mungkin terjadi di masa depan,” kata Hasan.

👇👇

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya