PDIP: Dolar Rp19 Ribu Lebih Dekat Ketimbang Janji 19 Juta Lapangan Kerja!

DEMOCRAZY.ID – Di tengah tekanan terhadap mata uang nasional dan berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi pemerintah, kader PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menyentil pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Guntur mengatakan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan sejumlah janji yang disampaikan saat kampanye Pilpres 2024, terutama terkait target penciptaan 19 juta lapangan kerja yang pernah disampaikan Gibran.

Blak-blakan, Guntur menyinggung pergerakan rupiah yang kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.

Baginya, kondisi tersebut tidak bisa lagi dipandang sebagai fluktuasi biasa, melainkan menjadi sinyal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Hari ini, Senin 8 Juni 2026, rupiah kembali terjungkal. Dibuka di Rp18.107 per dolar Amerika Serikat. Melemah 71 poin hanya dalam semalam,” ujar Guntur dikutip fajar.co.id, 8 Juni 2026.

Ia bahkan menyebut perhatian publik saat ini bukan lagi soal apakah dolar akan menyentuh angka tertentu, melainkan kapan hal itu akan terjadi.

“Ini bukan lagi soal apakah dolar akan tembus Rp19.000, tapi soal kapan,” ucapnya.

Tagih Janji Kampanye Gibran

Di tengah kondisi tersebut, Guntur menagih janji kampanye Gibran yang menurutnya hingga kini belum terlihat realisasinya.

Ia mengingatkan kembali target penciptaan 19 juta lapangan kerja yang pernah menjadi salah satu materi kampanye pasangan Prabowo-Gibran.

“Wapres Gibran masih ditagih janji kampanyenya yang paling lantang, 19 juta lapangan kerja,” cetusnya.

Kata Guntur, janji tersebut dahulu disampaikan dengan penuh keyakinan di hadapan publik.

“Dulu diucapkan dengan dada membusung di panggung debat cawapres. Kini sunyi senyap,” imbuhnya.

Guntur juga menyoroti berbagai indikator ekonomi yang menurutnya menunjukkan tekanan cukup besar sepanjang tahun 2026.

Ia mengklaim pelemahan rupiah telah berlangsung cukup dalam dan dibarengi dengan penurunan pasar modal.

“Faktanya keras, rupiah sudah amblas lebih dari 18 persen sepanjang tahun 2026. IHSG terjun bebas dari puncaknya,” tukasnya.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

“Investor asing angkat kaki. Pasar tidak percaya. Bukan semata soal gejolak global, tapi karena sinyal kebijakan dalam negeri yang menakutkan,” terangnya.

Lebih jauh, Guntur mengaitkan kondisi ekonomi saat ini dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya menimbulkan kekhawatiran di pasar.

Ia menaruh perhatiannya pada berbagai program dan kebijakan fiskal yang dianggap berisiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Cengkraman negara atas ekspor komoditas, ekspansi fiskal yang ugal-ugalan, terkait program MBG-KDMP, dan arah ekonomi yang tak jelas rimbanya,” jelasnya.

Kata dia, dampak yang dirasakan masyarakat saat ini justru berbeda dengan harapan yang sebelumnya dijanjikan pemerintah.

“Alih-alih pekerjaan baru bermunculan yang muncul justru harga barang impor melonjak, biaya produksi membengkak, daya beli rakyat kecil tergerus,” timpalnya.

Anak Muda Belum Merasakan Dampak

Guntur juga bicara mengenai situasi generasi muda yang menurutnya belum merasakan dampak positif dari berbagai program penciptaan lapangan kerja.

Ia menilai banyak anak muda yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap dan harus bertahan dengan pekerjaan serabutan.

“Anak muda yang dijanjikan kerja malah makin ramai menganggur atau bertahan hidup dari kerja serabutan, mulai mantap makan dari tabungan, atau mulai matang makan dari hutang,” bebernya.

Guntur mempertanyakan alasan pemerintah yang terus meminta publik bersabar sembari menunggu hasil berbagai kebijakan ekonomi.

Menurutnya, kondisi pelemahan rupiah yang terjadi saat ini justru menimbulkan pertanyaan baru mengenai efektivitas kebijakan yang dijalankan.

“Pemerintah bilang butuh proses. Proses macam apa yang membuat mata uang nasional babak belur?,” Guntur menuturkan.

“Sementara 19 juta lapangan kerja masih terasa seperti slogan kampanye yang terus diputar ulang,” tambahnya.

Bukan hanya itu, ia juga melontarkan sindiran kepada Wakil Presiden Gibran terkait kondisi nilai tukar rupiah saat ini.

“Gibran rupanya akan lebih cepat mewujudkan dolar 19 ribu daripada 19 juta lapangan kerja. Dan, rakyat terus menunggu sambil menyaksikan rupiah melaju, lebih cepat dari janji selamat datang di Republik Fufufafa, di mana angka 19 lebih dekat ke kurs dolar daripada ke lapangan kerja,” kuncinya.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya