DEMOCRAZY.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi tonggak kesejahteraan generasi masa depan Indonesia justru dicoreng oleh aksi lancung oknum pejabatnya.
Presiden Prabowo Subianto dilaporkan meradang dan murka besar setelah mengetahui program unggulan yang ia kawal ketat justru dijadikan bancakan korupsi dengan modus yang dinilai sangat “amatiran”.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) secara blak-blakan membongkar bagaimana dana yang seharusnya menjadi hak gizi anak-anak sekolah, justru habis diputar untuk proyek pengadaan barang yang tidak masuk akal.
Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, mengungkapkan keprihatinannya atas mentalitas para tersangka yang dinilai hanya memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk meraup keuntungan pribadi secara instan melalui manipulasi tender.
“Kita prihatin sebenarnya, kok masih ada saja pejabat yang korupsi. Dan cara korupsinya pun, menurut versi saya, itu adalah cara yang sangat amatiran. Mereka hanya mengejar tender pengadaan agar bisa mendapatkan komisi (kickback),” ujar Boyamin Saiman.
Meski nilai proyek yang dikorupsi bernilai raksasa, teknik yang digunakan para tersangka tergolong sangat klasik dan kasar, mulai dari mengondisikan pemenang tender, mendirikan yayasan bodong, hingga melakukan penggelembungan harga (mark-up) yang mengorbankan kualitas makanan di lapangan.
Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jampidsus kini telah menetapkan tiga petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tersangka, termasuk eks Kepala BGN Dadan Hindayana, eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.
Bukan digunakan untuk membeli susu, telur, atau daging berkualitas bagi anak sekolah, aliran dana rasuah ini justru tersedot ke belanja operasional yang “ajaib” dan di luar nalar sehat, di antaranya:
Dampak nyata dari pemotongan anggaran gizi ini pun mulai memicu petaka di lini bawah, di mana sejumlah kasus keracunan makanan dilaporkan menimpa siswa penerima manfaat akibat penurunan standar kualitas bahan pangan.
Boyamin menilai, keberanian para tersangka melakukan korupsi secara vulgar lahir dari rasa percaya diri yang keliru.
Mereka merasa berada di lingkaran elit dan dekat dengan pusat kekuasaan.
“Mereka merasa hebat, merasa tidak tersentuh karena dekat dengan kekuasaan, merasa diangkat oleh Pak Prabowo. Padahal Pak Prabowo juga marah dalam kasus ini karena merasa dikhianati. Namanya dicemarkan. Disuruh menjaga program unggulan, tapi ternyata malah korupsi!” tegas Boyamin.
Kini, pertaruhan besar ada di tangan hukum. Mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, dikabarkan siap mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC).
Jika dikabulkan, Sony siap “bernyanyi” untuk membongkar tuntas siapa saja aktor intelektual dan penikmat aliran dana haram motor listrik Rp1 triliun yang telah mengkhianati jutaan anak sekolah di Indonesia.
Sumber: Akurat