Sindiran ‘Wamenlu 3 Bulan’ Bikin Geger! Ini Adu Profil & Prestasi Teddy Indra Wijaya vs Dino Patti Djalal

DEMOCRAZY.ID – Simak perbandingan jejak karier dan pendidikan Sekretaris Kabinet RI (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu) Dino Patti Djalal.

Sebelumnya, Teddy menyinggung nama Dino kala memberikan klarifikasi mengenai kritik terhadap tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.

Pada Sabtu (30/5/2025) lalu, melalui unggahan di akun media sosial X (dulu Twitter) @dinopattidjalal, Dino memang sempat memberi kritik dan masukan kepada Prabowo terkait frekuensi kunjungan luar negerinya, terutama agar dikurangi intensitasnya sekaligus mempertimbangkan besarnya biayanya.

Lalu, Teddy pun memberikan tanggapan terhadap kritik Dino Patti Djalal lewat video yang diunggah di laman YouTube Sekretariat Kabinet RI, Senin (1/6/2026).

Meski, mengapresiasi perhatian yang diberikan oleh diplomat senior itu, Teddy justru sempat menyindir Dino yang menurutnya hanya tiga bulan menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri.

“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ujar Teddy.

Lantas, seperti apa rekam jejak karier Dino dan Teddy?

Jejak Karier dan Pendidikan Dino Patti Djalal

Lahir di Belgrade, Yugoslavia (sekarang terpecah menjadi Montenegro, Serbia, Bosnia-Herzegovina, Makedonia Utara, Kosovo, Slovenia, dan Kroasia) pada 10 September 1965, Dino Patti Djalal dikenal sebagai salah satu diplomat senior Indonesia sekaligus pakar kebijakan luar negeri.

Total hampir 40 tahun, Dino berpengalaman dalam dunia diplomasi yang mencakup seni dan praktik mengelola hubungan antarnegara—melalui dialog, negosiasi, dan kerja sama damai—untuk mencapai kepentingan nasional tanpa menggunakan kekerasan

Sejak kecil, Dino juga sudah akrab dengan dunia tersebut. Sebab, ia berasal dari keluarga diplomat.

Ayah Dino adalah mendiang Hasjim Djalal yang dikenal sebagai diplomat senior dan pakar hukum laut internasional, yang berperan besar dalam pengesahan Hukum Laut Internasional PBB (UNCLOS 1982).

Hasjim Djalal sendiri pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kanada, Jerman, dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan meninggal dunia pada 12 Januari 2025 lalu.

Mengingat profesi sang ayah, Dino sudah berpindah-pindah negara, mulai dari Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, hingga Vancouver.

Dikutip dari laman resmi dinopattidjalal.com, pria berdarah Minangkabau ini menempuh pendidikan campuran Islami dan Barat, dengan pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Azhar.

Lalu, ia melanjutkan jenjang Sekolah Menengah Akhir (SMA) di McLean, Virginia, Amerika Serikat (AS).

Dino meraih gelar Sarjana di jurusan Ilmu Politik atau Political Science di Carleton University, Ottawa, Kanada, dan selanjutnya meraih gelar Magister Ilmu Politik di Simon Fraser University, Vancouver, Kanada.

Kemudian, Dino mengantongi gelar Ph.D (Doctor of Philosophy) di jurusan Hubungan Internasional atau International Relations dari London School of Economics and Political Science, Inggris.

Dino Patti Djalal yang memiliki dua saudara (Iwan Djalal dan Dini Djalal) mengikuti jejak ayahnya untuk berkarier di dunia diplomasi.

Ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) pada 1987 dan pernah ditugaskan di London, Dili, dan Washington DC.

Berikut rekam jejak karier Dino Patti Djalal:

  • Juru bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Timur (1999)
  • Direktur Urusan Amerika Utara (2004)
  • Staf Khusus Presiden untuk Urusan Internasional (2004-2010)
  • Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) periode 2010-2013
  • Wakil Menteri Luar Negeri RI pada Juni-Oktober 2014.

Dino mendirikan Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI/Foreign Policy Community of Indonesia) pada 2015.

Ia sekaligus menjadi anggota Executive Committee of the Paris Peace Forum, sedangkan FPCI sendiri menjadi anggota pendiri atau founding member Paris Peace Forum.

Dino juga dikenal luas sebagai bapak Diaspora Indonesia, mengingat perannya dalam meluncurkan Kongres Dunia Diaspora Indonesia (World Congress of Indonesian Diasporas) pertama di Los Angeles, AS pada 2012, dan karena mencetuskan istilah “diaspora Indonesia” serta menggagas Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network/IDN) di seluruh dunia.

Jejak Karier dan Pendidikan Teddy Indra Wijaya

Teddy Indra Wijaya lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 14 April 1989, dan merupakan putra dari pasangan Kolonel Inf. (Purn) Giyono dan Mayor Caj (K) Patris R.A. Rumbayan.

Sejak kecil, Teddy sudah menunjukkan minat besar pada dunia militer.

Ia menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, salah satu sekolah unggulan di Indonesia yang banyak melahirkan calon perwira tinggi.

Selepas itu, ia melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah dan lulus pada 2011.

Teddy meraih gelar Sarjana (S1) di Universitas Jenderal Achmad Yani pada 2012, dan gelar Magister (S2) dalam Kajian Terorisme di Universitas Indonesia pada 2021.

Selain itu, Teddy sempat mengikuti pendidikan di Ranger School, Amerika Serikat (AS), salah satu program pelatihan paling bergengsi di dunia militer, khususnya untuk melahirkan prajurit US Army Ranger.

Saat berpangkat Kapten, Teddy berhasil meraih Tab Ranger, sebuah pencapaian yang menunjukkan kualifikasinya sebagai bagian dari pasukan elite Angkatan Darat AS (US Army) Ranger.

Program ini diikuti oleh 412 siswa dari US Army dan 6 siswa asing, termasuk dari Indonesia.

Teddy juga menorehkan prestasi saat menempuh pendidikan di US Army Infantry School pada 2019.

Di Fort Benning, ia berhasil menjadi lulusan dengan predikat International Honor Graduate, di antara 185 peserta yang terdiri dari perwira Amerika dan perwira asing.

Selain itu, ia juga menerima penghargaan Commandant List Award dan Gold APFT, pencapaian fisik yang prestisius.

Pada 2014-2019, Teddy yang masih memiliki pangkat Mayor menjadi asisten ajudan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

Lalu, pada 2020, ia diangkat menjadi ajudan Prabowo Subianto yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI (Menhan).

Ia setia mendampingi Prabowo selama empat tahun, termasuk selama masa kampanye Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 hingga akhirnya ditunjuk sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) dan dilantik pada 20 Oktober 2024.

Beberapa bulan setelah resmi menjadi Seskab, Teddy naik pangkat dari Mayor menjadi Letnan Kolonel (Letkol) pada 25 Februari 2025.

Kenaikan pangkat tersebut didasarkan pada keputusan Panglima TNI dan Surat Perintah Nomor Sprin/674/II/2025.

Adapun Teddy tidak mundur dari prajurit TNI aktif setelah ditunjuk menjadi Seskab.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya