DEMOCRAZY.ID – Pemerintah perlu waspada terhadap penurunan tajam persepsi publik yang menilai bahwa Indonesia sedang menuju ke arah benar, sebagaimana hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Pendiri SMRC, Saiful Mujani mengatakan meski belum sampai pada level ancaman, hasil survei terbaru tersebut menjadi peringatan keras bagi pemerintah.
“Iya. Jadi ini peringatan yang sangat keras,” kata Saiful Mujani, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, level ancaman hanya pada tingkat kognitif, psikologis masyarakat yang pesimis dan kehilangan harapan, termasuk kecewa terhadap pemerintah.
“Kecewa gitu ya, itu bisa. Tapi belum ancaman secara riil,” kata Saiful.
Ia berujar ancaman riil bisa dikatakan ada bila terjadi pemberontakan di mana-mana.
Dalam kata lain, ancaman tersebut bisa dikatakan terjadi bila kemarahan dan kekecewaan masyarakat berujung dalam bentuk gerakan massa.
Mencegah hal tersebut terjadi, Saiful menekankan kepada pemerintah untuk benar-benar melakukan perbaikan.
Setidaknya membuat kepercayaan masyarakat kembali naik bahwa Indonesia memang tengah menuju ke arah yang benar, bukan sebaliknya.
“Ya, artinya ya pemerintah atau kita semuanya adalah harus berupaya memperbaiki keadaan. Supaya opini di masyarakat lebih optimis, lebih baik gitu loh. Dari 47 (persen) harus naik, beberapa bulan ke depan menjadi di atas 50 (persen),” kata Saiful.
Sebelumnya, SMRC dalam survei terbaru menyatakan persepsi publik bahwa Indonesia sedang menuju ke arah yang benar turun menjadi 48 persen pada dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Angka tersebut turun 35 poin persentase dari sebelumnya 83 persen pada Oktober 2024.
Hasil survei yang dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 itu disampaikan langsung oleh pendiri SMRC, Profesor Saiful Mujani, dalam program Bedah Politik bertajuk “Dua Tahun Prabowo: Publik Nilai Indonesia ke Arah yang Salah” yang tayang di kanal YouTube SMRC TV, Selasa (13/10/2026).
“Penurunan persepsi positif arah negara ini terbesar sepanjang 25 tahun terakhir,” kata Prof. Saiful dalam presentasinya.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu menjelaskan, penurunan tajam tersebut berkaitan dengan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja presiden.
Kondisi sosial-ekonomi, politik, dan penegakan hukum juga dinilai mengalami penurunan tajam.
Populasi survei ini mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah saat survei dilakukan.
Populasi tersebut dibagi menjadi dua kelompok atau subpopulasi.
Pada subpopulasi pemilik telepon seluler, sebanyak 1.013 orang dipilih secara acak menggunakan metode double sampling.
Responden dalam kelompok ini diwawancarai melalui telepon.
Sementara itu, pada subpopulasi yang tidak memiliki telepon seluler, sebanyak 200 orang dipilih secara acak menggunakan metode stratified multistage random sampling.
Responden dalam kelompok ini diwawancarai secara tatap muka.
Total sampel yang diwawancarai mencapai 1.213 responden.
Margin of error survei diperkirakan sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.