Panggung Politik Bergolak! Mesra di LRT Kelapa Gading-Manggarai, Akankah Prabowo-Pramono ‘Berduet’ di 2029?

Signature: BCtYxbDU8zeourB9mZoBxUfw+Io6bz2FY7G0EkK6GokRjXUnIGLbdqUfgXzCyKMh5kFPLv+gVnJwAVLCyXARIkk3VVhUlnk+7W35+jRob+rDZgX2SYHzdFux0+PicDdWF6EKNOmbQeVZwI5INULBda9EZ9cLF8u22zUtzbYkgs4nAOPpVwtxsVBpEYdkAatFAcDTD0DAnxkyY7TTvA7jdFxhixBgX6re/9Np0CcUHaJX56MiaGEdCnQsM3aorfrdofTNMM5SamhOiqnyhX73JcuBxx8rkUgvxJCaBg9N7GDL1xObRU1GO/t5FmIEEHj+yADJOZW21J+AmiX0/LfJyJmPXb70tdnFOXQVjhulHxKDw/BdXJQVrNSROVHVDM41Fcho7jWP+Xi47Ym5FQ1aS0145yH8Axp+Az/dz4/EqacARVTBcuCuBK5TEvA2JAtlTW9oxV0uWr8P8DPGisirJP8V2jXwSF9o9uELLQQ/lziYKowYRXbW6/nulGya7a/U4jskp/xN7rmc//gNyzDAZGYSRPd1Or8hGlhSpOeRMMNfr0Tb6Er5AYI6vhLCBQJ2iBaBaavTlpoK+psD6kCp5aLS94PdTTyCY0cw17kdw61k74qxHtIUtmIYfV6AfIN2GaR0MjRI5WWMCroBOcZB7eCVkkGrys7YeRPQ1Xcne9MO5erBy4DfBw1zHzbFLTVeW3jITp51XgW07SqVFhGlPfEDTFZ1cUMBHjznny1cQ2nqDTiK9hZWEAVyhqY68EvFCm3fPN2H2fmN/z6BrvCoq8lXkI7jSmrAgMs6yTpxNSKxVcOdVbdHlWh9DLdo8opd7W45EPUb/oY6Hq2XncblgJbgjQFPmxNiVtuTCNrdJmFXruhvLB9YLXFwXzWohHGEQ/qNDtADI9GJYVXYjvkn6a/dAtxQDm9hvrbZ/+7KE95VVxWBoQgwaOycCUaze6Hu2sSKvEDaG6hdgJx7FCmLPtecmMXuyO6ElKPkJQYpZss=

DEMOCRAZY.ID – Momen keakraban antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat peresmian pengoperasian LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai, Rabu (16/9/2026), menyita perhatian publik.

Keharmonisan yang ditampilkan kedua tokoh dari latar belakang partai politik berbeda tersebut memicu berbagai spekulasi terkait peta politik ke depan.

Analis Politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai keakraban tersebut sebagai hal yang biasa dalam ajang formal, meski tidak menampik adanya peluang kerja sama yang lebih besar.

Menurutnya, PDIP sejauh ini tidak memiliki pertentangan dengan Gerindra maupun Prabowo, dan hubungan baik pemerintah dengan parlemen sudah menandai harmoni di antara keduanya.

“Kedekatan itu hal biasa dalam situasi formal, meskipun peluang koalisi Prabowo-Pramono terbuka cukup lebar, PDIP sendiri sejauh ini tidak miliki pertentangan dengan Gerindra maupun Prabowo, harmoni yang terjalin antara pemerintah dan parlemen sudah menandai hubungan yang baik antara Prabowo dan PDIP,” kata Dedi saat dihubungi, Kamis (17/9/2026).

Dedi menambahkan, posisi suara PDIP periode ini yang tidak dominan membuat target posisi calon wakil presiden untuk Pemilu 2029 menjadi cukup rasional.

Ia memprediksi, jika koalisi Gerindra dan PDIP benar-benar terjalin, peluang kemenangan pada kontestasi mendatang akan terbuka jauh lebih besar.

“Sisi lain, suara PDIP periode saat ini juga tidak dominan, sehingga cukup rasional jika sasaran mereka menjadi Cawapres untuk 2029 mendatang. Jika koalisi Gerindra-PDIP terjalin, bisa membuka peluang kemenangan lebih besar,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Politik yang juga Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, memandang pujian dan chemistry Prabowo kepada Pramono menunjukkan adanya ruang kerja sama politik yang terbuka.

“Menurut saya, kedekatan Prabowo dan Pramono saat peresmian LRT kemarin menarik dibaca secara politik. Pujian Prabowo kepada Pramono, meski berbeda partai, menunjukkan ada chemistry dan ruang kerja sama politik yang cukup terbuka. Tetapi terlalu dini jika langsung diterjemahkan sebagai sinyal duet 2029,” kata Arifki.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa terlalu dini jika momen tersebut langsung diartikan sebagai sinyal duet untuk 2029.

Menurutnya, potensi duet baru akan menguat jika konfigurasi kekuatan politik Prabowo-Gibran mengalami perubahan menjelang 2029.

Arifki juga menyoroti bahwa Pemilu 2029 berpotensi menjadi ajang pertarungan pengaruh para mantan presiden, seperti Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.

Situasi dinamis tersebut membuat arah koalisi masih sangat berkembang.

“Pramono hari ini mungkin bukan calon pasangan Prabowo. Tetapi kalau kekuatan Prabowo-Gibran berubah, Pramono bisa berubah dari sekadar mitra kerja menjadi opsi politik. Karena pertarungan 2029 bukan hanya soal kandidat, tetapi juga pertarungan pengaruh para mantan presiden,” ujar Arifki.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Menurut Prabowo, kepemimpinan Pramono di ibu kota memang hebat.

Hal itu disampaikan Prabowo di hadapan Pramono saat meresmikan LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun LRT Manggarai.

“Intinya selamat terima kasih gubernur. Saya harus akui, kalau ada gubernur yang hebat ya saya akui dia hebat, wakil gubernur,” kata Prabowo, Rabu (16/9/2026).

Prabowo mengakui kehebatan Pramono kendati ia berasal dari PDIP, bukan dari Partai Gerindra.

Menurutnya, kehebatan kepemimpinan politikus senior PDIP di Jakarta itu patut menjadi contoh.

“Walaupun walaupun bukan dari partai saya. Tapi ini harus mendorong partai-partai lain, ya kan, ya kerja yang bener dong. Terima kasih. Selamat Pak Pramono selamat. Doel, tapi sekarang sudah gak anak jalanan ya,” kata Prabowo.

Prabowo memandang pengelolaan Jakarta dan daerah sekitar merupakan contoh.

Menurut Prabowo, Jakarta menjadi contoh bahwa bangsa sendiri mampu mengelola suatu aglomerasi dengan aman, dalam suasana demokratis, serta tertib.

Artikel terkait lainnya