PSI Kritik Standar Ganda Publik: Pertanyakan Alasan Megawati dan Prabowo Disanjung, Sementara Jokowi Di-Cap Negatif

Signature: txdtryUcXIdVjjEZ3Ck1sGbCvJB7HJx3WEqbhGA99qz2EqmTqQyJL0WAfciohXeP6aNzhRV5V/lcOZUQarMSiO5h1N85cseSNTSqa9t0TEJVWR5Ty6jgx6BrvVBZdZLLgQayOz9sDVEdSSSyuoq7fAjm02uBMX3SrCAnXyzpiDCEYXYXnAgwIY48oQNBMnJuIKYwhXlvzj8eYS1oMeHED1CPPTknQTzg3YkDyBTpVCnInJ4qYi9joxvXfetUxczO25KcvN1adLnojeYvK1/h4fs8Q1xNrUSnJl2Qiw3G2NOyi8lycDVzwOJEdmT1fzmBDIUpVE29bbNSx69QV2e9pM/OEZgTeZMBZYb6GTVdgXESBQZC5or+4f6Du5hokuy57ZDec/NDWowymjYRQCQJVu2Vh3ublBIku88gwiGZIbR4OZ55qUouMMY+CP4eiy2cuoL9JJzjNzqxej7JkJljO9ePhxO8AbulE04jqGChLFPRDNmmDJfZRvjyfIlXBl1yHzOVQvt3OPz/1UJ7Azsg9ZGxwUg4xcSw3Z2VkoCKoOZijkD8sBbxvZUJKACjU9o1+bQKIA8NjkhC3RwMyHMGXtMtl6pxkLVaspJkHenAt8rTU1yWR6n3hGNHW4eWxyxRi02H2t09Z1mGWPH29svDXMsocDHC9yFW+eYU89ALrU1TlA3mTiIk7VqjI9qGsWrXVKK/i2k9jM/HX4/IrYCN4eajY2+T9QOkH2Ov9pTk8eUdH897/B7pAKd//iHBk6UGuZ+vK2YuKvoaTTXEKvJFgDh05J8/gXhsKsBm6v5eyHzFp795hruAlVZ3cowAtVYvdMjvgxUjh8IrLhKPAqrXJyRhtqmEWIFvGr7pVfveq/FgHoxzWHswuy6iLZvk0iIRfG+9BUwVU3HkhfPTDiMeza82cff1VPK9pN0B52HahM2vUJmRhIHIAbPlmKX6fUmF1G1IpSX7DNsc7XSrtWVPE2TN5iOFvTj3yYqipUnmJzU=

DEMOCRAZY.ID – Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, mengkritik keras sikap publik yang dinilainya menerapkan standar ganda terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Pembelaan ini dilontarkan menyusul pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyindir adanya mantan pejabat negara yang belum mampu menjadi negarawan sejati karena masih terobsesi dengan kekuasaan dan pemilu.

Dedy menilai, langkah politik Jokowi yang belakangan aktif bersafari ke berbagai daerah tidak berbeda dengan elite partai politik lainnya.

Menurutnya, tokoh-tokoh besar seperti Megawati Soekarnoputri, SBY, hingga Presiden RI Prabowo Subianto juga secara aktif merancang strategi politik menuju Pemilu 2029.

“Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P jelas sudah mempersiapkan strategi internal bagaimana menghadapi pemilu 2029. SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi Demokrat jelas sudah menyiapkan semacam strategi jitu dalam menghadapi pemilu 2029,” tulis Dedy melalui akun X pribadinya, dikutip Kamis (15/10/2026).

“Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Gerindra sekaligus Presiden RI tentu saja ngga tinggal diam dalam urusan pemilu 2029, beliau pastinya sudah mempersiapkan diri untuk terpilih kembali,” tambahnya.

Dedy merasa heran dengan narasi publik yang dinilainya kerap menyudutkan Jokowi.

Menurutnya, aktivitas politik Jokowi selalu dilabeli negatif sebagai sosok yang haus kekuasaan, sedangkan pergerakan tokoh lain dianggap hal yang lumrah.

“Sementara di sudut lain ada Jokowi yang dicap sebagai seorang yang tidak memenuhi kategori “Negarawan” karena dianggap terlalu sibuk memikirkan pemilu 2029,” ujar Dedy.

“Jokowi dicap sebagai seorang yang haus kekuasaan, sementara Mega, SBY, Prabowo kesannya tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, saat memberikan orasi ilmiah dalam perayaan Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Rabu (14/10/2026), SBY menyinggung perbedaan mendasar antara seorang politisi dan negarawan.

SBY menilai politisi cenderung berfokus pada kemenangan pemilu jangka pendek.

“Kalau presiden, gubernur, wali kota, bupati, berpikir semoga terpilih kembali. Anggota DPR, DPRD, DPD pasti berpikir terpilih kembali. Itu tidak salah. itulah politisi,” kata SBY.

Namun, SBY menekankan bahwa seorang negarawan sejati seharusnya menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun partai politiknya.

“Negarawan harus memikirkan hal-hal jauh di masa depan. Stateman itu tak harus mantan presiden. Bukan semua bisa jadi negrawan. Country over party. Country first. Jangan pula dibalik, jangan partai politik diutamakan sementara negara belakangan, wrong,” tegas SBY.

Artikel terkait lainnya