Peringatan Keras Amien Rais ke Prabowo: Jangan Jadi Pemimpin Antikritik dan Merasa Paling Pintar!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais, kembali mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak mengabaikan kritik publik.

Amien meminta pemerintah mencerna dan menganalisis setiap masukan, termasuk kritik yang disampaikan secara tajam, sebagai bahan evaluasi.

Menurutnya, pemimpin yang merasa paling tahu dan enggan mendengarkan suara rakyat berisiko kehilangan dukungan.

Ambil Contoh Gaya Kepemimpinan Trump

Amien mengambil contoh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin di negara demokrasi harus tetap membuka ruang terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.

“Sejarah mengajarkan di negara demokrasi yang presidennya kementus atau sombong seperti Donald Trump, yang tidak mau mendengar suara rakyatnya dan merasa omnisius, tahu segala-galanya, otomatis akan kehilangan dukungan rakyatnya,” ujar Amien, Kamis (13/8/2026).

Dari hal tersebut, Amien kemudian menyampaikan pesan khusus kepada Prabowo.

Ia meminta Presiden tidak berlebihan dalam membangun kedekatan dengan Trump.

“Nah, wanti-wanti kita untuk Mas Prabowo, janganlah sok aksi mendekati Trump secara berlebihan,” tukasnya.

Amien juga menyinggung intensitas komunikasi antara Prabowo dan Trump.

Ia menyebut keduanya telah beberapa kali bertemu dan berkomunikasi melalui sambungan telepon.

“Pertemuan Prabowo dengan Trump paling tidak 3 kali, sementara pembicaraan lewat telepon tercatat beberapa kali,” sebutnya.

Menurut Amien, hubungan dengan pemimpin negara lain tetap penting.

Namun, ia mengingatkan agar kebijakan pemerintah tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat di dalam negeri.

Kritik Pembangunan Rumah Rakyat

Selain hubungan Prabowo dengan Trump, Amien menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah. Salah satunya terkait program pembangunan perumahan rakyat.

Ia menyebut pemerintah sempat menetapkan luas rumah yang kemudian berubah setelah mendapat kritik dari berbagai pihak.

“Grasak-grusuk Prabowo juga terlihat di perkara lain, dalam pembangunan perumahan rakyat yang luasnya semula cuma 18 meter persegi,” ucapnya.

Menurut Amien, ukuran tersebut kemudian diperluas setelah muncul kritik.

“Kemudian setelah dikritik oleh banyak pihak diperluas menjadi 20 meter persegi,” jelasnya.

Amien juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kualitas jajaran kabinet yang dipilih pemerintah.

“Hal ini juga menjadi salah satu titik lemah pemerintahan Prabowo karena mengangkat seorang menteri yang amatiran,” sesalnya.

Soroti Kondisi HAM dan Kehidupan Rakyat

Amien juga menyoroti kondisi hak asasi manusia (HAM) dan kehidupan masyarakat.

“Situasi HAM mengalami erosi terparah zaman Prabowo ini, saya bisa mengatakan memang 30-35 persen rakyat kita di lapisan bawah memang masih bisa ketawa tetapi ketawa kecut,” cetusnya.

Ia menggambarkan tekanan ekonomi yang disebutnya dirasakan sebagian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sebagian lagi ketawa menyeringai karena tidak sanggup sekedar menutup kebutuhan dasar mereka dalam kehidupan mereka,” imbuhnya.

Amien kemudian menyinggung analisis media Belanda yang membahas kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo.

Menurutnya, analisis tersebut tidak semestinya langsung dianggap sebagai serangan terhadap Indonesia, tetapi dapat dijadikan bahan untuk melihat kondisi ekonomi secara lebih objektif.

“Nah saudara-saudara, lawjustice.co per 2 Agustus 2026 tahun ini memuat sebuah analisa media cetak terkemuka di Belanda The Volkskrant,” tutur Amien.

“Membuat analisa perekonomian Indonesia di bawah Presiden Prabowo. Tajuknya berbunyi Is Indonesia of Wehner bangkrut? Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?,” tambahnya.

Amien: Kritik Harus Diolah untuk Perbaikan

Bagi Amien, sorotan media asing semestinya tidak direspons secara berlebihan. Ia meminta pemerintah melihatnya sebagai salah satu peringatan mengenai kondisi ekonomi nasional.

“Jurnal Belanda ini seharusnya kita jadikan peringatan bahwa kondisi ekonomi kita memang sedang tidak baik-baik saja,” terangnya.

Ia mengatakan kekhawatiran serupa juga telah disampaikan sejumlah ekonom dan dapat dirasakan melalui kondisi masyarakat.

“Hal ini sudah didengungkan oleh banyak pakar ekonomi kita dan kenyataan di lapangan pun kita rasakan,” tegasnya.

Karena itu, Amien meminta pemerintah tidak bersikap defensif ketika menerima kritik.

“Jadi kita tidak usah kebakaran jenggot, kita terima sebagai masukan yang konstruktif,” bebernya.

Ia juga mengingatkan agar kritik dari pihak luar negeri tidak serta-merta dicap sebagai bentuk ketidaksukaan terhadap Indonesia.

“Tidak usah kita tuduh itu pihak asing yang tidak suka pada Indonesia, paling-paling yang percaya cuma Londo Ireng, model masa lalu, dan seterusnya,” tegas Amien.

Lebih jauh, Amien menekankan pentingnya pemerintah membuka diri terhadap kritik.

Menurutnya, kritik yang tajam sekalipun tetap dapat menjadi bahan evaluasi apabila diolah secara objektif.

“Nah sikap yang paling baik memang kritik-kritik tajam itu kita dengar dan kita endapkan serta kita analisa untuk kita perbaiki sejauh kita bisa,” tandasnya.

Pesan Amien kepada pemerintahan Prabowo tidak hanya berkaitan dengan satu kebijakan.

Ia mendorong pemerintah menjadikan kritik sebagai instrumen evaluasi untuk memperbaiki kebijakan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Artikel terkait lainnya