DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Rocky Gerung memberikan kritik terkait keberadaan kabinet bayangan.
Menurut Rocky, keberadaan kabinet bayangan tidak semestinya hanya berhenti pada kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kelompok yang mengatasnamakan kabinet bayangan, kata dia, harus memiliki gagasan alternatif yang jelas serta kesiapan untuk menggantikan pemerintahan.
Tujuannya, sebagai persiapan apabila kebijakan pemerintahan yang berjalan dinilai gagal.
Pandangan tersebut disampaikan Rocky dalam siniar Total Politik, sebagaimana dikutip pada Kamis (13/8/2026).
Rocky juga mempertanyakan posisi ideologis kabinet bayangan apabila mereka mengkritik sejumlah kebijakan yang memiliki orientasi sosial.
“Coba tanya kepada Menteri Perekonomian Kabinet Bayangan, lu anti koperasi, lu anti MBG, berarti lu pro kapitalis, lu pro individualis,” kata Rocky.
Menurut Rocky, posisi ideologis tersebut berpotensi membuat pihak yang tergabung dalam kabinet bayangan kesulitan memberikan jawaban atas kritik yang disampaikan.
Ia menegaskan, kritik terhadap pemerintah saja tidak cukup.
Kritik tersebut, menurut dia, harus disertai konsep yang dapat ditawarkan sebagai alternatif.
“Gugup dia jawab nanti. Karena dia hanya membayang-bayangi. Dia tidak bisa out above mengatasi kabinet itu,” paparnya.
Menurut Rocky, konsep shadow cabinet dalam politik seharusnya memiliki fungsi yang lebih jauh, yakni menyiapkan alternatif pemerintahan.
“Gampangnya begini, kabinet bayangan dia mesti siap menggantikan kabinet itu kalau dia gagal,” ucapnya.
Rocky menilai kehadiran kabinet bayangan saat ini justru belum menunjukkan kesiapan tersebut.
Kritik-kritik yang muncul, kata dia, lebih banyak menunjukkan ketidakpuasan daripada rancangan kebijakan yang dapat digunakan sebagai alternatif.
“Kelihatannya mereka cuma ingin membayangi, bukan menggantikan. Nggak tuntas itu,” jelasnya.
Ia menilai kelompok yang menentang gagasan ekonomi sosial yang dikaitkan dengan Prabowo seharusnya berani menjelaskan pilihan sistem ekonomi yang mereka dukung.
“Jadi jangan tanggung. Ada kapasitasnya, tapi paradigmanya nggak dia paham. Dia anti kabinet yang sosialistis, mestinya dia pro kapitalis,” terangnya.