

DEMOCRAZY.ID – Pemakaman Kades Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, Pemalang, Sukandar, jadi viral di media sosial.
Pasalnya, sejumlah warga turut mengantar jenazah hingga memadati ruas jalan di Bantarbolang. Begini sosok almarhum semasa hidupnya.
Video berdurasi sekitar 1 menit itu diunggah akun Instagram @pemalang.update.
Video yang diunggah 20 jam lalu itu telah ditonton lebih dari 63 ribu kali.
“Masya Allah, Ribuan Masyarakat di Kecamatan Bantarbolang ramai-ramai mengantar jenazah alm Drs Sukandar selalu Kades Pegiringan yang wafat dan dimakamkan hari ini. Husnul Khatimah, Amiin. Alfateha,” tulis keterangan dalam unggahan akun tersebut, dikutip detikJateng, Jumat (31/7/2026).
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak lautan pelayat memenuhi ruas jalan desa.
Dari penelusuran, momen itu terjadi pada Kamis (30/7) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kasi Pemerintahan Desa Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, Slamet membenarkan adanya ribuan warga yang mengantar jenazah Pak Sukandar ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
“Betul, itu kejadiannya kemarin Kamis Siang. Warga desa berduka, kami kehilangan sosok pemimpin, suri teladan kami,” kata Slamet saat dihubungi, Jumat (31/7/2026).
Slamet mengatakan Kades Pegiringan, Drs Sukandar, meninggal dunia di rumah sakit pada Kamis (30/7) pagi. Ia meninggal di usia 63 tahun.
“Kemarin yang ikut mengantarkan almarhum ke pemakaman tidak saja dari desa kami, namun juga dari luar desa yang mengenal kebaikan almarhum. Ya dua ribuan lebih,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, almarhum dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang apapun.
“Kami benar-benar kehilangan. Beliau orang yang baik, merangkul semua warganya, tidak pandang bulu, dan menjalankan amanah dengan baik. Yang takziah bukan hanya warga desa kami, tetapi juga banyak warga dari desa lain yang datang,” ucap dia.
Menurutnya, besarnya antusiasme masyarakat terlihat sejak proses penyelenggaraan salat jenazah.
Masjid yang menjadi lokasi salat jenazah sampai tidak mampu menampung seluruh pelayat.
Alhasil, sebagian pelayat harus ikut salat di area luar masjid.
“Masjid penuh saat menyalatkan beliau, bahkan sampai meluber ke luar. Itu menunjukkan betapa besar kecintaan masyarakat kepada almarhum,” tambahnya.
Slamet menuturkan, selama menjabat sebagai kepala desa, Sukandar dikenal sebagai sosok sederhana, religius, dan dekat dengan masyarakat.
“Beliau taat beribadah. Setiap Senin dan Kamis melakukan puasa,” ungkapnya.
Sebelum menjadi Kepala Desa Pegiringan, Sukandar pernah mengemban tugas sebagai Sekretaris Desa.
Dalam pemilihan kepala desa sebelumnya, ia meraih kemenangan dengan selisih sekitar 100 suara dari total lebih dari 6 ribuan suara pemilih.
“Setelah menjadi Kades, beliau tidak membedakan kamu pendukung siap. Semua dirangkul membangun desa,” kata Slamet.
Kepercayaan masyarakat terhadap Sukandar juga masih sangat tinggi.
Bahkan, menjelang berakhirnya masa jabatan yang diperkirakan pada akhir 2026 atau awal Januari 2027, banyak warga yang menginginkan dirinya kembali maju dalam pemilihan kepala desa berikutnya.
Kepergian Sukandar meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Desa Pegiringan dan Kecamatan Bantarbolang.
Bagi banyak warga, almarhum bukan hanya seorang kepala desa, tetapi juga figur pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat hingga akhir hayat.