Grup WA Ortu Para Pelaku Pelecehan Seksual FH UI Diduga Bocor! Minta Anaknya Tak di DO

DEMOCRAZY.ID – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) kembali menjadi sorotan publik.

Setelah sebelumnya mencuat terkait jumlah korban dan proses penanganan internal kampus, kini polemik baru muncul setelah beredarnya tangkapan layar percakapan yang diduga berasal dari grup WhatsApp orang tua mahasiswa yang terlibat.

Percakapan tersebut viral di media sosial dan menuai beragam reaksi.

Isi chat dinilai kontroversial karena memperlihatkan sikap sejumlah orang tua yang dianggap lebih membela para terduga pelaku dibandingkan menunjukkan empati terhadap korban.

Dalam tangkapan layar itu, beberapa anggota grup justru menyoroti pihak yang pertama kali menyebarkan kasus ke publik.

“Andai saja si penyebar lebih bijak, tidak langsung menyebarkan seperti ini,” tulis salah satu anggota grup dalam percakapan yang beredar, mengutip unggahan di X @screamerdiva, Rabu 15 April 2026.

Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap mengalihkan fokus dari substansi dugaan pelecehan yang terjadi.

Selain itu, kekhawatiran terhadap dampak pemberitaan juga menjadi topik dominan dalam diskusi para orang tua.

“Kalau sudah tersebar seperti ini, jadinya bola liar. Semua pihak bisa kena imbasnya,” bunyi pesan lainnya.

Sejumlah orang tua bahkan menilai bahwa pemberitaan yang meluas telah memperburuk situasi dan berpotensi merugikan banyak pihak, termasuk keluarga mahasiswa.

“Kami sebagai orang tua tentu khawatir, ini sudah jadi berita nasional. Dampaknya panjang untuk anak-anak,” tulis salah satu anggota grup.

Hal yang paling menyita perhatian publik adalah adanya permintaan agar pihak kampus tidak menjatuhkan sanksi berat berupa Drop Out (DO) kepada mahasiswa yang diduga terlibat.

Dalam percakapan tersebut, beberapa orang tua secara terbuka meminta kebijakan yang lebih lunak.

“Mohon kebijaksanaan pihak kampus, jangan sampai anak-anak ini di-DO. Kasihan masa depan mereka,” tulis salah satu pesan.

Permintaan tersebut kemudian diikuti pandangan serupa dari anggota lainnya yang menganggap sanksi berat bukan solusi.

“Kalau bisa jangan sampai DO, cukup pembinaan saja. Mereka masih muda dan bisa diperbaiki,” ujar anggota grup lainnya.

Beredarnya percakapan ini pun langsung menuai kecaman luas dari masyarakat.

Banyak pihak menilai bahwa sikap sebagian orang tua tersebut mencerminkan minimnya empati terhadap korban dan cenderung berfokus pada perlindungan terhadap pelaku.

Di tengah meningkatnya perhatian publik, sejumlah kalangan mendesak agar penanganan kasus ini tetap berorientasi pada keadilan bagi korban serta transparansi proses hukum dan etik di lingkungan kampus.

Hingga kini, pihak FH UI sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait keaslian tangkapan layar yang beredar maupun langkah lanjutan yang akan diambil.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya