DEMOCRAZY.ID – Polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali memicu riuh di ruang publik.
Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, secara terbuka memberikan tantangan keras kepada Jokowi untuk membuktikan kebenaran dokumen pendidikannya secara langsung di depan meja hijau, terkait perkara dugaan pencemaran nama baik yang menjerat Roy Suryo dan dr. Tifa.
Amien menilai, persidangan merupakan momentum paling krusial bagi Jokowi untuk memutus rantai spekulasi yang telah bertahun-tahun menghantui masa kepemimpinannya.
Bagi Amien Rais, kehadiran Jokowi di pengadilan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan ajang pembuktian integritas.
Ia bahkan mengeluarkan pernyataan yang cukup menohok mengenai dampak kehadiran tersebut bagi citra mantan kepala negara itu.
“Luar biasa kalau Jokowi berani datang. Kalau betul-betul berani datang ke persidangan itu, image atau citra Jokowi sebagai begajul banci, penakut, dan pengecut langsung sirna,” ujar Amien dengan nada tegas.
Namun, di balik tantangan tersebut, tokoh reformasi ini mengaku sangat skeptis.
Ia secara blak-blakan meragukan nyali Jokowi untuk membuka dokumen ijazah yang selama ini menjadi subjek perdebatan sengit.
Amien bahkan mengklaim menyimpan bukti rekaman peristiwa ketika massa Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) menyambangi kediaman Jokowi pada April 2025 lalu untuk menuntut transparansi ijazah, dan menyatakan siap membukanya jika diminta oleh majelis hakim.
Amien tidak berhenti di situ.
Ia menarik kembali ingatan publik pada label “King of Lip Service” yang pernah disematkan BEM UI kepada Jokowi pada 2021 silam.
Ia mengaitkan julukan tersebut dengan pola komunikasi Jokowi yang dianggapnya tidak konsisten, yang kini kembali menjadi sorotan di tengah jalannya proses hukum.
Tak hanya menguliti masa lalu, Amien juga memberikan analisis politik terkait masa depan keluarga Jokowi.
Ia memprediksi bahwa polemik ijazah ini akan menjadi batu sandungan berat bagi karier politik putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, menuju kontestasi nasional 2029.
Dalam retorikanya yang khas, Amien mengibaratkan posisi politik Gibran seperti tokoh Bilung dalam pewayangan—sosok yang dikenal sebagai pengikut setia Togok, yang menurutnya memiliki jalan terjal jika isu “ijazah palsu” ini tidak terselesaikan secara tuntas dan meyakinkan di mata publik.
Menutup pernyataannya, Amien Rais mengajak masyarakat untuk tidak lengah dan terus mengawal jalannya persidangan perkara ini.
Ia menekankan bahwa proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Timur ini akan menjadi ujian besar bagi kebenaran dan keadilan di tanah air.
“Setiap tindakan yang dianggap zalim pada akhirnya akan memperoleh konsekuensinya,” pungkas Amien dengan nada peringatan.
Kini, publik menunggu: akankah Jokowi menjawab tantangan ini dengan hadir di persidangan dan membawa dokumen asli, ataukah polemik ini akan terus menjadi “bola panas” yang akan terus menggelinding hingga perhelatan politik 2029 mendatang?