KPK Diguncang! Mahasiswa Turun ke Jalan, Desak Keberanian Usut Skandal Eks Jampidsus Febrie

DEMOCRAZY.ID – Gedung Merah Putih KPK mendadak riuh oleh aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Sema UGM), Selasa (14/7/2026).

Sambil membawa surat terbuka dan simbol bunga mawar putih, mereka menuntut KPK berhenti bersikap pasif dan segera mengambil peran dominan dalam penanganan kasus korupsi kakap yang menjerat mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah.

Ketua Umum Sema UGM 2026, Mesa, memimpin langsung aksi ini dengan retorika yang membakar.

Ia menegaskan bahwa KPK tidak boleh hanya menjadi penonton di pinggir lapangan saat integritas hukum negara sedang dipertaruhkan.

Sindiran Keras: “KPK Jangan Nonton Bola!”

Mesa melayangkan kritik pedas terhadap posisi KPK yang sejauh ini hanya memainkan peran supervisi dan koordinasi yang dianggapnya tidak bertaring.

Ia bahkan menyindir bahwa sikap diam KPK saat ini sangat memprihatinkan.

“Mungkin sikap KPK saat ini sama saja seperti kita semua yang nonton bola bareng-bareng. KPK jangan cuma nonton bola juga! KPK harus ikut bermain di lapangan,” tegas Mesa di hadapan awak media di depan Gedung Merah Putih KPK.

Bagi mahasiswa, diamnya KPK atas laporan-laporan masa lalu terhadap Febrie Adriansyah—yang sempat dilaporkan oleh Koalisi Masyarakat Sipil pada 2024 dan 2025—adalah bukti bahwa lembaga antirasuah ini sedang mengalami krisis identitas.

“Apakah KPK yang lahir dari esensi pemberantasan korupsi masih menghidupi esensi tersebut? Atau KPK hanya menyisakan nama yang dipelihara bahkan oleh dirinya sendiri karena terlalu lama diam?” cecar Mesa dengan nada menantang.

Desak Pengambilalihan Kasus demi Kepercayaan Publik

Mesa menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan puas dengan jawaban-jawaban normatif.

Mereka menuntut keberanian KPK untuk melakukan langkah konkret: mengambil alih kasus tersebut.

Menurut mereka, pengambilalihan kasus ini bukan sekadar urusan teknis hukum, melainkan langkah krusial untuk mengembalikan kepercayaan publik yang kini berada di titik nadir.

Mahasiswa percaya bahwa jika KPK tidak segera unjuk gigi, maka martabat lembaga ini akan terus terkikis oleh skeptisisme masyarakat.

Tak hanya menyerbu pimpinan KPK, para mahasiswa ini juga mengirimkan surat desakan kepada Dewan Pengawas (Dewas) KPK.

Mereka berharap Dewas tidak tutup mata dan memberikan dorongan kuat bagi KPK untuk menggunakan wewenang absolutnya dalam memproses perkara ini secara transparan dan tuntas.

“Ketika KPK mengambil alih, KPK lah yang juga nantinya punya tanggung jawab besar untuk memenuhi harapan dari masyarakat dan menanggung beban moral KPK itu sendiri,” pungkas Mesa.

Aksi mahasiswa ini menjadi pengingat keras bagi para pimpinan KPK.

Akankah lembaga antirasuah ini merespons desakan kaum intelektual ini dengan tindakan nyata, atau justru mereka akan tetap memilih “menonton bola” hingga kepercayaan publik benar-benar hilang sepenuhnya?

Artikel terkait lainnya