DEMOCRAZY.ID – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto melontarkan pernyataan tajam mengenai kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Hasto menyinggung praktik penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power yang menurutnya banyak dilakukan pada era pemerintahan Jokowi.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi narasumber dalam podcast Sinkos Indonesia bersama Faizal Assegaf, Jumat (30/10/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Faizal menyinggung kemungkinan adanya operasi kontraintelijen untuk melemahkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menanggapi pertanyaan itu, Hasto justru mengarahkan pembicaraan pada persoalan penyalahgunaan kekuasaan di masa pemerintahan Jokowi.
“Abuse of power itu yang banyak dilakukan oleh Presiden Jokowi. Apa pesan Bu Mega? Sangat sederhana tapi sangat dalam. Kenali sisi gelap itu,” kata Hasto.
Pernyataan Hasto tersebut menjadi sorotan karena secara terbuka membawa nama Jokowi dalam pembahasan mengenai penyalahgunaan kekuasaan.
Ia juga mengungkap pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang meminta kader memahami sisi gelap kekuasaan.
Hasto juga membantah anggapan bahwa Megawati dan PDIP memiliki persoalan dengan Islam.
Menurutnya, pandangan tersebut merupakan framing yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa setelah peristiwa 1965, keluarga Bung Karno mengalami perlakuan politik yang berat, termasuk tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan.
“Karena kita tahu setelah peristiwa 65 itu kan sepertinya kami dibenturkan dengan Islam. Ketika peristiwa 65, Bu Mega dan seluruh keluarga Bung Karno enggak boleh melanjutkan sekolah. Padahal Bung Karno yang berjuang sejak usia muda untuk memberikan republik,” ujarnya.
Hasto kemudian mengingatkan kembali sikap Bung Karno terhadap Islam.
Ia menuturkan, Bung Karno pernah menyampaikan pemikiran mengenai geopolitik dan perjuangan bangsa-bangsa Islam.
Dalam penjelasannya, Hasto juga menyinggung pidato Bung Karno dalam sebuah muktamar Muhammadiyah yang menyampaikan harapan agar Indonesia suatu saat mampu membuat bom atom sendiri.
Ia turut mengutip pesan Megawati bahwa terorisme bukan bagian dari Islam.
Menurut Hasto, Bung Karno juga memiliki kedekatan dengan nilai-nilai keislaman, termasuk kebiasaannya berdoa dan membaca Al-Qur’an.
Dalam podcast tersebut, Hasto juga menanggapi pertanyaan mengenai hubungan Indonesia dan Singapura yang dinilai sebagian kalangan mulai memanas.
Menurutnya, Indonesia tidak perlu membawa hubungan kedua negara ke arah ketegangan.
Ia menilai tradisi musyawarah dan kemampuan diplomasi Indonesia harus lebih dikedepankan.
“Ya, tidak harus memanas. Maksudnya kita ini kan punya tradisi musyawarah. Kita ini punya kemampuan diplomasi yang handal sebenarnya,” katanya.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan Presiden Prabowo tidak memberikan restu atau ruang bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dimakzulkan, Hasto menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi.
Ia menyebut terdapat berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat.
PDIP, kata dia, memilih mendengarkan perkembangan tersebut dan mencermati gagasan yang didasarkan pada fakta.
“Ya itu kan asumsi. Kita menduga pilihannya dimakzulkan atau dalam politik kita enggak boleh dengan duga-duga, dengan asumsi,” ujar Hasto.
Ia meyakini Presiden Prabowo juga mendengarkan berbagai aspirasi yang berkembang, terlebih apabila gagasan tersebut telah terkristalisasi berdasarkan fakta-fakta yang ada.
Setelah MK Buktikan Tidak Ada Ijazah SMA Gibran, Kini MA Batalkan Suket Gibran, Masih Ga Tahu Malu Ya Jadi Wapres?! https://t.co/60uB7lSKNW
— Satyam Eva Jayate!!! (@PaltiHutabarat) October 30, 2026
[VIDEO]