Isu Panas Menjelang Pilpres 2029! Pengamat Endus Dugaan Oligarki Siapkan Dana Melimpah untuk Duet KDM dan Gibran

DEMOCRAZY.ID — Catur politik nasional menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memanas dengan mencuatnya wacana skenario duet antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi membongkar dugaan adanya gerilya kekuatan oligarki raksasa yang tengah menyiapkan sokongan dana melimpah demi memuluskan pasangan tersebut.

Menurut Muslim Arbi, rekayasa politik ini tidak dapat dilepaskan dari peran mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disinyalir masih berupaya menanamkan pengaruhnya melalui jaringan pemodal besar dan oligarki pendukungnya.

Muslim Arbi: Jokowi dan Oligarki Lirik KDM Demi Amankan Gibran di 2029

Muslim Arbi membeberkan bahwa kedekatan Jokowi dengan kelompok oligarki pemilik sumber daya ekonomi raksasa menjadi bahan bakar utama dalam merancang peta politik masa depan.

Elektabilitas KDM yang meroket tajam dinilai menjadi magnet utama bagi klan Solo untuk menggandeng sang Gubernur Jawa Barat guna menopang posisi Gibran yang kian terdesak skandal kecurangan administrasi dan ijazah fiktif.

“Jokowi akan melihat hasil survei. Kalau elektabilitas KDM terus menguat, bukan tidak mungkin dia akan digandeng dan dipasangkan dengan Gibran pada Pilpres 2029,” ungkap Muslim Arbi, Jumat (30/10/2026).

Muslim juga menduga terdapat skenario untuk memikat KDM agar merapat ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Masuknya figur populer seperti KDM diproyeksikan dapat mendongkrak daya tarik partai yang selama ini diidentikkan dengan kendaraan politik keluarga Jokowi.

Kemiripan Gaya Blusukan Gorong-gorong dan Trajektori Elektabilitas KDM

Muslim membedah bahwa KDM merupakan figur pragmatis yang gaya komunikasi politiknya meniru pola lama Jokowi ketika masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Pendekatan pencitraan dan aksi blusukan—termasuk momen KDM meninjau gorong-gorong serta saluran air—dinilai sebagai fotokopi strategi populisme Jokowi demi merebut simpati publik.

Potensi elektoral KDM memang tercermin dari angka survei nasional.

Temuan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas simulasi calon presiden dengan angka 35,5 persen, mengungguli Anies Baswedan (10,3 persen), Prabowo Subianto (9,8 persen), dan Gibran (8,4 persen).

Sementara itu, survei Parameter Politik Indonesia (PPI) rilis 18 Oktober 2026 mencatat Prabowo memimpin simulasi terbuka presiden dengan 31,6 persen, disusul KDM (11,4 persen), Anies (10,1 persen), dan Gibran (6,9 persen).

Namun pada simulasi calon wakil presiden, KDM melesat di posisi puncak dengan 21 persen, jauh melampaui Gibran yang hanya meraih 14,2 persen.

Tembok Bantahan PSI dan Peringatan Bahaya Oligarki

Meskipun wacana ini menggelinding deras, Wakil Ketua Umum PSI Ronald Aristone Sinaga (Bro Ron) membantah adanya pembahasan internal terkait rencana kepindahan KDM maupun skenario duet tersebut.

KDM sendiri pada 22 September 2026 telah menyatakan komitmennya untuk tetap berfokus menyelesaikan tugas-tugas pemerintahan di Jawa Barat.

Muslim Arbi memperingatkan masyarakat agar tidak lagi terkecoh oleh polesan pencitraan, drama blusukan, maupun gelontoran dana kampanye raksasa dari para pemodal di balik layar.

“Jangan sampai Pilpres hanya menjadi pertarungan kekuatan uang dan pencitraan, sementara kepentingan rakyat justru berada di belakang kepentingan oligarki,” tegas Muslim Arbi.

Skenario perjodohan politik berbasis kekuatan uang ini kian memperjelas bahwa ambisi dinasti Solo dan oligarki pendukungnya tidak pernah berhenti, menjadikan konsolidasi Hak Angket DPR RI untuk Pemakzulan Gibran sebagai keharusan mutlak demi menyelamatkan masa depan demokrasi Indonesia!

Artikel terkait lainnya