Peringatan Keras Pakar Ekonomi: ‘Pelarian Modal’ Akan Terus Berlangsung Selama Rezim Prabowo Berkuasa!

DEMOCRAZY.ID — Pasar modal Indonesia resmi berubah menjadi kuburan massal bagi para investor!

Ekonomi senior Ferry Latuhihin melontarkan peringatan gempa ekonomi tingkat tinggi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami terjun bebas (crash) secara brutal hingga menyentuh level 5.233.

Anjloknya hampir 11 persen dalam satu sesi perdagangan pagi ini menjadi bukti telanjang bahwa rezim ekonomi Presiden Prabowo Subianto dinilai “anti-bisnis” dan memicu kepanikan global.

Di tengah ambruknya bursa saham, hantaman gelombang capital flight (pelarian modal asing) diprediksi bakal terus menguras cadangan devisa negara akibat kebijakan Istana yang dianggap tidak masuk akal dan minim kepastian hukum.

“Neraka Pasar Saham”: IHSG Anjlok ke 5.233 dan Stigma “Anti-Bisnis”

Ferry Latuhihin tidak menutup-nutupi keparahannya.

Pasar saham Indonesia yang menjadi barometer kepercayaan internasional kini tengah sekarat akibat ketidakpastian kebijakan ekonomi Kabinet Merah Putih.

“Hari ini benar-benar menjadi neraka bagi para pemain saham di pasar modal kita. Kita sudah jelas akan dihindari oleh investor,” tegas Ferry Latuhihin, Ahad (18/10/2026).

Ia menambahkan bahwa pelarian modal besar-besaran akan terus menghantui Indonesia sepanjang rezim Prabowo berkuasa jika arah kebijakan ekonomi tetap dipertahankan pada pola-pola yang menyulitkan dunia usaha.

Bagi para pemodal global, kebijakan yang tidak rasional dan terkesan memusuhi iklim korporasi adalah sinyal merah untuk segera menarik dana keluar dari Indonesia.

Ancaman MSCI: Indonesia Terancam Masuk “Stand-Alone Market”?

Situasi pasar keuangan nasional kian di ujung tanduk setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI)—lembaga penyedia indeks pasar modal global yang menjadi rujukan utama investor institusional dunia—dikabarkan membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar Indonesia menjadi stand-alone market.

Jika status penurunan kelas ini benar-benar diketok oleh MSCI, posisi Indonesia bakal disetarakan dengan negara-negara terisolasi yang memiliki akses investasi global sangat terbatas.

Konsekuensinya, manajer investasi global otomatis akan mencabut dana triliunan rupiah dari portofolio Indonesia secara serentak.

Deindustrialisasi Brutal: Manufaktur Anjlok ke 18 Persen

Tak hanya di lantai bursa, fondasi ekonomi riil nasional juga sedang sekarat.

Ferry membongkar kejatuhan sektor industri pengolahan (manufaktur) yang terus merosot secara sistematis hingga kini hanya menyisakan kisaran 18 sampai 18,5 persen terhadap PDB.

Deindustrialisasi dini ini menghancurkan kemampuan Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan menggenjot ekspor bernilai tinggi.

Alih-alih membangun basis produksi yang kuat, kebijakan ekonomi Istana dinilai gagal menyelamatkan sektor riil dari kebangkrutan.

Sinyal Bahaya: Dolar Menuju Rp20.000 dan Krisis 2027!

Sebagai penutup, Ferry melontarkan alarm darurat mengenai ancaman depresiasi nilai tukar rupiah yang terus merosot.

Jika Bank Indonesia dan pemerintah gagal meredam tekanan eksternal dan domestik, ambruknya rupiah hingga menembus level Rp20.000 per dolar AS tinggal menunggu waktu saja.

Lonjakan kurs dolar ini dipastikan akan melumpuhkan industri yang bergantung pada bahan baku impor, membengkakkan beban utang luar negeri, dan memicu krisis multidimensi yang jauh lebih brutal pada tahun depan.

“Kita tidak bisa terus-menerus keep going on like this. Saya yakin banget tahun depan bisa terjadi sesuatu yang kritis dengan ekonomi kita kalau sampai dolar itu lari ke atas 20 ribu!” pungkasnya.

Di tengah karut-marut ekonomi yang di ambang jurang kehancuran ini, ketimbang sibuk melanggengkan drama politik dinasti dan pencitraan kekuasaan, rezim Prabowo dituntut segera merombak total tim ekonominya sebelum Indonesia resmi bangkrut total!

Artikel terkait lainnya